- APPMBGI memperingatkan bahwa implementasi program Makan Bergizi Gratis berpotensi memicu gangguan distribusi pangan akibat lonjakan permintaan skala besar.
- Ketua Umum APPMBGI menekankan perlunya sistem distribusi berbasis data dan koordinasi kuat untuk menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.
- Program MBG disarankan mengintegrasikan pelaku ekonomi lokal seperti petani dan nelayan agar tidak mengganggu ketersediaan pangan di masyarakat.
Suara.com - Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menyoroti potensi tekanan terhadap rantai pasok pangan seiring implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menyebut intervensi skala besar seperti MBG perlu diantisipasi secara matang agar tidak memicu gangguan pada sistem distribusi pangan yang sudah berjalan.
“Kita pernah melihat indikasi kelangkaan beras, protein hewani, dan bahan pangan lain di beberapa daerah akibat tekanan permintaan. Ini alarm bahwa MBG tidak bisa dilihat hanya sebagai program distribusi makanan, tetapi juga sebagai sistem ekonomi pangan yang harus dijaga keseimbangannya,” kata Rivai dalam keterangan APPMBGI Summit 2026 di Jakarta, ditulis Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, sebagai negara kepulauan, struktur logistik Indonesia memiliki ketergantungan antarwilayah yang tidak merata. Kondisi ini membuat distribusi bahan pangan rentan terhadap lonjakan permintaan dalam waktu singkat.
Karena itu, APPMBGI mendorong penguatan koordinasi antara pemasok, operator dapur, serta pelaku usaha pendukung untuk menjaga stabilitas pasokan. Salah satu pendekatan yang didorong adalah pengembangan sistem distribusi berbasis data dan geospasial agar lebih presisi.
Forum juga menekankan pentingnya integrasi dengan pelaku ekonomi lokal, termasuk petani, nelayan, dan UMKM pangan, agar kebutuhan bahan baku MBG tidak mengganggu ketersediaan pangan di masyarakat.
“Program sebesar ini tentu tidak tanpa tantangan. Kritik, evaluasi, dan penyempurnaan tata kelola justru penting agar tujuan mulianya tidak terganggu di tingkat implementasi,” ujar Rivai.
APPMBGI menilai, dengan pengelolaan yang tepat, program MBG tetap dapat berjalan beriringan dengan stabilitas pasar pangan sekaligus memperkuat ekonomi lokal di berbagai daerah.
Baca Juga: Kepala BGN Tegaskan 19.000 Sapi Bukan Kebutuhan Harian MBG: Hanya Simulasi
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
Tayang September, Film Tazza: The Song of Beelzebub Jadi Penutup Seri Tazza
-
Panggung BDD 2026 Tampilkan Joget Tidak Pantas, Bupati Bondowoso Minta Maaf
-
Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong, KPK Sita Uang Rp 4 Miliar dari Rumah Kadis PUPR Bengkulu
-
Belajar Jadi Anak Besar dengan Cara yang Lucu dalam Buku Loops
-
CEK FAKTA: Pemotor Pakai Sandal Jepit akan Ditilang dan Denda Rp250 Ribu, Benarkah?
-
Bukan Sekadar Buku Anak, 'Dad' Menggambarkan Sisi Kompleks Seorang Ayah
-
Pasca Perry Warjiyo Mundur, Investasi Asing Langsung Hengkang di Sesi I
-
Dituduh Curi Motor, Pria Asal Sinjai Tewas Dikeroyok Massa di Indomaret
-
Memeluk Diri di Seri Chicken Soup for the Soul, Saat Hidup Terasa Berat
-
Kenapa Pakai Bedak Malah Bikin Wajah Kusam? Ini 6 Penyebab dan Tips Memilih Shade yang Tepat