News / Nasional
Minggu, 26 April 2026 | 11:05 WIB
Dapur MBG (polkam.go.id)
Baca 10 detik
  • APPMBGI memperingatkan bahwa implementasi program Makan Bergizi Gratis berpotensi memicu gangguan distribusi pangan akibat lonjakan permintaan skala besar.
  • Ketua Umum APPMBGI menekankan perlunya sistem distribusi berbasis data dan koordinasi kuat untuk menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.
  • Program MBG disarankan mengintegrasikan pelaku ekonomi lokal seperti petani dan nelayan agar tidak mengganggu ketersediaan pangan di masyarakat.

Suara.com - Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menyoroti potensi tekanan terhadap rantai pasok pangan seiring implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menyebut intervensi skala besar seperti MBG perlu diantisipasi secara matang agar tidak memicu gangguan pada sistem distribusi pangan yang sudah berjalan.

“Kita pernah melihat indikasi kelangkaan beras, protein hewani, dan bahan pangan lain di beberapa daerah akibat tekanan permintaan. Ini alarm bahwa MBG tidak bisa dilihat hanya sebagai program distribusi makanan, tetapi juga sebagai sistem ekonomi pangan yang harus dijaga keseimbangannya,” kata Rivai dalam keterangan APPMBGI Summit 2026 di Jakarta, ditulis Minggu (26/4/2026).

Menurutnya, sebagai negara kepulauan, struktur logistik Indonesia memiliki ketergantungan antarwilayah yang tidak merata. Kondisi ini membuat distribusi bahan pangan rentan terhadap lonjakan permintaan dalam waktu singkat.

Karena itu, APPMBGI mendorong penguatan koordinasi antara pemasok, operator dapur, serta pelaku usaha pendukung untuk menjaga stabilitas pasokan. Salah satu pendekatan yang didorong adalah pengembangan sistem distribusi berbasis data dan geospasial agar lebih presisi.

Forum juga menekankan pentingnya integrasi dengan pelaku ekonomi lokal, termasuk petani, nelayan, dan UMKM pangan, agar kebutuhan bahan baku MBG tidak mengganggu ketersediaan pangan di masyarakat.

“Program sebesar ini tentu tidak tanpa tantangan. Kritik, evaluasi, dan penyempurnaan tata kelola justru penting agar tujuan mulianya tidak terganggu di tingkat implementasi,” ujar Rivai.

APPMBGI menilai, dengan pengelolaan yang tepat, program MBG tetap dapat berjalan beriringan dengan stabilitas pasar pangan sekaligus memperkuat ekonomi lokal di berbagai daerah.

Baca Juga: Kepala BGN Tegaskan 19.000 Sapi Bukan Kebutuhan Harian MBG: Hanya Simulasi

Load More