- MTI desak KNKT investigasi keandalan taksi listrik pemicu tabrakan kereta di Bekasi.
- Evaluasi izin taksi listrik diperlukan jika terbukti ada kelemahan teknis fatal.
- Keselamatan perlintasan sebidang butuh integrasi SOP antara jalan raya dan kereta.
Suara.com - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memperluas cakupan investigasi terkait kecelakaan beruntun yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur.
MTI menekankan bahwa penyelidikan tidak boleh hanya berhenti pada aspek operasional kereta api, melainkan wajib membedah keandalan unit taksi listrik merek VinFast yang menjadi pemicu awal petaka tersebut.
Ketua Forum Perkeretaapian MTI, Deddy Herlambang, menegaskan bahwa investigasi terhadap unit taksi listrik yang mogok di perlintasan sebidang JPL 85 Ampera sangat krusial. Hal ini diperlukan untuk memastikan apakah ada kegagalan teknis spesifik pada kendaraan listrik tersebut yang berkontribusi pada insiden.
“KNKT diharapkan wajib investigasi pula reliability atau keandalan taksi listrik yang berpotensi mogok di atas rel tersebut. Apabila memang terdapat kelemahan, perizinan taksi listrik ini harus dievaluasi kembali,” tegas Deddy (28/4/2026).
Insiden maut ini bermula saat sebuah taksi listrik dilaporkan mati mesin di tengah rel, yang kemudian tertemper oleh KRL relasi Jakarta-Cikarang. Dampak dari gangguan awal ini merembet pada sistem perjalanan kereta hingga mengakibatkan tabrakan fatal antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang tengah tertahan di Stasiun Bekasi Timur.
MTI menilai, fokus pada "pemicu awal" jauh lebih penting daripada hanya melihat hasil akhir kecelakaan. Jika kendaraan listrik terbukti memiliki kerentanan teknis yang serius saat melintasi infrastruktur tertentu, maka regulasi keselamatan moda jalan raya yang bersinggungan dengan jalur kereta api perlu dirombak total.
Selain aspek kendaraan, Deddy menyoroti perlunya mitigasi berupa Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas bagi pengguna jalan jika mengalami mogok di atas rel. Ia mengingatkan bahwa keselamatan transportasi adalah kesatuan ekosistem yang melibatkan integrasi antarmoda.
“Kecelakaan yang berpotensi berulang dengan modus yang sama akan menimbulkan keprihatinan tanpa batas,” pungkasnya. Kini, publik menunggu langkah tegas KNKT untuk mengungkap apakah ambisi transisi kendaraan listrik sudah dibarengi dengan jaminan keselamatan di lapangan.
Baca Juga: Dituding Jadi Penyebab Kecelakaan KRL di Bekasi Timur, Gaji Driver Green SM Hampir Rp10 Juta?
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Sepanjang Tahun 2025, Pertamina EP Cepu Torehkan Kinerja Moncer
-
Laba Naik Saat Industri Media Berat, Emiten DIGI Bongkar Strategi Rahasianya
-
Aura Research Jadi Senjata Baru DIGI, Andalkan AI untuk Riset hingga Advokasi Bisnis
-
Pegadaian dan KSEI Perkuat Ekosistem Emas Melalui Investasi ETF Emas
-
Laba Bersih Arkadia Digital Media (DIGI) Melonjak 45,1% di 2025, Siapkan Ekspansi Bisnis AI
-
RI Siapkan Indonesia Center New York, Bidik Investasi dan Ekspansi Bisnis ke AS
-
Domestik Lesu, SIG Mau Kirim 1 Juta Ton Semen ke Pasar AS Lewat Dermaga Baru
-
Industri Manufaktur Didesak Beralih ke Energi Hijau, Jangan Tunggu Sampai Kalah Saing
-
Selisih Harga Makin Lebar, Migrasi Pertamax ke Pertalite Berpotensi Jadi Risiko Besar bagi APBN
-
Sekarang UMKM Bisa Ekspor ke Eropa Setelah IEU-CEPA Disepakati