- Pemerintah melalui Perum BULOG berencana membangun 100 infrastruktur pascapanen di 92 kabupaten guna menjaga stabilitas pasokan serta harga pangan.
- Pengamat AEPI menekankan pentingnya perencanaan lokasi yang presisi agar investasi infrastruktur jangka panjang ini tidak menjadi mubazir bagi petani.
- Pembangunan infrastruktur tersebut harus terintegrasi dengan ekosistem logistik nasional, cadangan pangan pemerintah, serta kebutuhan nyata di setiap daerah.
Suara.com - Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori menyoroti rencana pemerintah membangun 100 gudang infrastruktur pascapanen (IPP) untuk memperkuat ketahanan pangan.
Program 100 gudang yang dijalankan oleh Perum BULOG ini dinilai strategis, namun berisiko tidak optimal jika tidak dirancang secara matang.
Ia menilai pembangunan gudang untuk menampung hasil panen memang penting untuk mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan.
"Dalam konteks stabilisasi pasokan dan harga pangan, IPP adalah keniscayaan," ujar Khudori kepada wartawan yang dikutip, Selasa (28/4/2026).
Pemerintah sebelumnya menyetujui pembangunan 100 titik IPP yang tersebar di 26 kantor wilayah Bulog dan mencakup 92 kabupaten/kota. Infrastruktur ini mencakup berbagai fasilitas, mulai dari pengeringan, pengolahan, hingga penyimpanan pangan.
Namun, Khudori mengingatkan proyek ini tidak boleh dijalankan tanpa perencanaan yang presisi, mengingat nilai investasinya besar dan bersifat jangka panjang.
"IPP adalah investasi jangka menengah panjang. Kalau salah menentukan titik, termasuk salah memutuskan jenis yang disediakan, bisa-bisa IPP tidak optimal, bahkan mubazir," ujarnya.
Ia menilai penentuan lokasi menjadi faktor krusial agar infrastruktur yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan, terutama dalam mengatasi persoalan distribusi dan ketimpangan pasokan antarwilayah.
Menurut dia, selama ini persoalan pangan di Indonesia tidak hanya terletak pada produksi, tetapi juga pada manajemen stok dan logistik yang belum optimal.
Baca Juga: Harga Pangan Hari Ini 28 April: Cabai Rawit Merah Meroket Rp165 Ribu Per Kilogram
"Produksi yang musiman, terkonsentrasi di Jawa, dan surplus hanya ada di sedikit wilayah, menuntut hadirnya manajemen stok dan logistik yang handal," jelas Khudori.
Ia menambahkan, tanpa dukungan infrastruktur yang tepat sasaran, pembangunan IPP berpotensi tidak memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi harga pangan.
Selain itu, Khudori juga menekankan pentingnya keterkaitan IPP dengan kebijakan lain, seperti Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dan program swasembada pangan.
"IPP harus dikaitkan dengan penyelenggaraan cadangan pangan pemerintah dan terintegrasi dengan kebijakan swasembada pangan," ujarnya.
Menurut dia, pembangunan IPP tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari ekosistem logistik pangan nasional secara menyeluruh.
"Intinya, keterpaduan bukan lagi perlu, tapi wajib. Karena ini menjadi penentu bermanfaat-tidaknya IPP yang tersedia," kata Khudori.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
Terkini
-
Nasib Gen Z di Jalur Gaza, Sarjana Pengangguran Bergantung Hidup dari Bantuan Kemanusiaan
-
Sudah Lama Dinanti, Peserta Sambut Antusias Turnamen Sepak Bola Bergengsi di Tangerang
-
Review ANTA PG7 Travel 2: Sepatu Lari Murah Teknologi 'Dewa', Nyaman Buat Daily Run?
-
Bullet Train Explosion: Ketika Shinkansen Berpacu Melawan Bom dan Waktu
-
Gianni Infantino Murka, Tuding Kritikus FIFA Sebarkan Kebencian
-
Sungai Musi dan Jejak Batu Bara: Ketika Jalur Logistik Bertemu Krisis Ekologi
-
Jepang Gempa Bumi Besar 7,1 Magnitudo, Ada Peringatan Tsunami
-
Investor Kripto RI Tembus 22,4 Juta, Transaksi Rp23 Triliun
-
Survei SMRC: Popularitas MBG Tinggi, Tapi Kepuasan Publik Merosot
-
6 Rekomendasi Serum Flek Hitam Terbaik untuk Kulit Berminyak, Ringan dan Cepat Meresap