- IHSG melemah 0,48% pada perdagangan kemarin akibat aksi jual bersih investor asing sebesar Rp1,24 triliun pada saham-saham besar.
- Bursa global dan Asia terkoreksi dipicu penurunan sektor teknologi AS serta ketidakpastian kondisi geopolitik dan kebijakan suku bunga.
- BNI Sekuritas memprediksi IHSG cenderung melemah hari ini dan menyarankan pemantauan teknikal pada saham seperti BUMI serta CUAN.
Suara.com - Pasar modal Indonesia tengah menghadapi fase krusial. Pada penutupan perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir sebesar 0,48%.
Koreksi ini diperparah dengan masifnya aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp1,24 triliun.
Beberapa saham penggerak pasar yang menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh asing meliputi BMRI, BBCA, BBRI, ANTM, hingga CUAN.
Berdasarkan tinjauan teknikal, IHSG hari ini diprediksi akan bergerak mendatar (sideways) dengan kecenderungan melemah di rentang support 6.900-7.000 dan resistance di level 7.100-7.200.
Sentimen Global: Wall Street dan Lesunya Saham Cip
Pelemahan IHSG ini sejalan dengan kondisi bursa global, khususnya Wall Street yang ditutup kompak melemah pada Selasa (28/4). Indeks S&P 500 turun 0,49%, Nasdaq Composite terkoreksi cukup dalam sebesar 0,9%, dan Dow Jones turun tipis 0,05%.
Sektor teknologi, terutama industri semikonduktor, menjadi beban terberat bagi pasar AS. Hal ini dipicu oleh laporan perlambatan kinerja OpenAI yang pertumbuhan pengguna dan pendapatannya meleset dari target internal.
Ketidakpastian mengenai kontrak komputasi masa depan menyeret jatuh harga saham raksasa cip dunia; Nvidia turun lebih dari 1%, Broadcom anjlok di atas 4%, dan AMD melemah lebih dari 3%.
Di tengah lesunya sektor teknologi, saham Coca-Cola justru mampu melawan arus dengan naik hampir 4% berkat laporan keuangan yang melampaui ekspektasi.
Baca Juga: Dana Rp 3,01 T Kabur Dalam Sehari, Asing Ramai-Ramai Jual BBCA hingga BMRI
Saat ini, investor global tengah bersiap menanti rilis kinerja keuangan emiten raksasa seperti Alphabet, Amazon, Meta, Microsoft, dan Apple yang dijadwalkan terbit pekan ini.
Bursa Asia dan Faktor Makro Geopolitik
Kondisi serupa juga menyelimuti bursa Asia yang mayoritas berakhir di zona merah. Indeks Nikkei Jepang merosot 1,02%, Hang Seng Hong Kong turun 0,95%, dan CSI 300 China melemah 0,27%.
Di sisi lain, pasar kini tengah menaruh perhatian pada kebijakan suku bunga bank sentral global yang diperkirakan akan tetap dipertahankan.
Sentimen geopolitik juga menjadi bumbu ketidakpastian. Harapan akan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali tertunda setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan khusus ke Islamabad.
Ketegangan yang masih terjaga ini menambah premi risiko bagi investor di pasar negara berkembang (emerging markets).
Berita Terkait
-
Wall Street Meloyo Imbas Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi
-
BEI Buka Gembok Dua Emiten Ini, Ada yang Punya Anak Orang Miliarder Indonesia
-
Pasar Modal Fluktuatif, Ini Alasan BBRI Jadi Rekomendasi Saham saat Krisis
-
IHSG Bergejolak, Ini Alasan BBRI Jadi Rekomendasi Saham di Tengah Krisis
-
IHSG Terus Terjun ke Zona Merah, Nyaris ke Level 6.900
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Penjelasan Dugaan Manipulasi Eskpor CPO Grup Salim, Mengapa Maybank Ikut Diperiksa?
-
ILC Adopsi Standar Internasional, Menaker Dorong Keseimbangan Pelindungan dan Inovasi
-
Bank Dunia Singgung 20 Persen Orang Kaya RI, Sebut Tak Tahu Diri
-
Investor Wajib Tahu, Indikator Utama Bisnis FnB Layak Difranchisekan
-
Penjualan Properti Anjlok, Pengembang Andalkan Kawasan Hunian-Komersial Terintegrasi
-
Bank Jakarta Permudah Layanan Warga Bayar Pajak Kendaraan
-
BTN Jakarta International Marathon 2026 Sukses Digelar, 20.500 Pelari Ramaikan Hari Pertama
-
Program JKN Bantu Dede Jalani Operasi Kista Ganglion
-
CBDK Cetak Laba Melonjak 317 Persen
-
Mengapa Pertalite Mau Dihapus?