Bisnis / Makro
Rabu, 29 April 2026 | 12:02 WIB
Ilustrasi mobil listrik. (Gemini AI)
Baca 10 detik
    • Menteri Perindustrian membuka peluang untuk melanjutkan subsidi mobil listrik setelah pemerintah memberikan lampu hijau bagi subsidi motor listrik sebesar Rp 5 juta.
    • Kebijakan subsidi ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik demi mencapai target pengurangan emisi karbon.
    • Percepatan penggunaan kendaraan listrik diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM di tengah krisis minyak global.

Suara.com - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membuka opsi kelanjutan subsidi mobil listrik setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan lampu hijau untuk motor listrik.

Menperin AGK menilai kalau upaya Pemerintah untuk memberikan subsidi Rp 5 juta ke motor listrik menjadi penanda bahwa Pemerintah mengupayakan ketahanan energi di tengah krisis minyak buntut perang Amerika Serikat vs Iran.

"Kalau angkanya bagi pandangan kami, selama memang angka subsidi itu ada, dan itu merupakan satu signal yang bagus dari Pemerintah kepada market. Pada percepatan, upaya percepatan kita untuk, sebut saja beralih ke kendaraan-kendaraan yang berbasis listrik termasuk motor," katanya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa penugasan untuk menambah 30 gerbong atau rangkaian kereta ini akan mengoptimalkan peran industri dalam negeri, khususnya dalam rantai pasok komponen. Foto Fadil-Suara.com

Saat ditanya nasib subsidi mobil listrik, Menperin juga mengaku kalau itu juga harus diberikan. Sebab nantinya semua kendaraan di Indonesia akan berbasis electric vehicle (EV).

"Semua harus, semua nanti akan berbasis electric vehicle. Karena apa? Karena sekali lagi, dulu waktu kita desain program EV, Itu kan masih kita menggunakan pendekatan pengurangan emisi. Itu juga penting," lanjutnya.

Agus kembali menerangkan kalau adanya penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan krisis minyak akan memacu Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM).

"Sehingga itu juga harus dikaitkan dan mungkin lebih penting terhadap ketahanan energi. Jadi ketahanan energi itu mengurangi tergantungan kita terhadap support BBM," pungkasnya.

Load More