- Solusi alternatif berbasis ilmiah untuk kurangi risiko kesehatan akibat rokok.
- Beralih ke produk tanpa bakar perbaiki sel mulut dan indera perasa dalam 3 bulan.
- Produk tembakau alternatif kurangi paparan zat beracun hingga 90% dibanding rokok.
Suara.com - Di tengah tuntutan pekerjaan yang kian tinggi, menjaga kebugaran dan fokus menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat urban. Salah satu isu yang terus mengemuka adalah pengelolaan risiko kesehatan akibat tingginya konsumsi tembakau. Kini, pendekatan Strategi Pengurangan Bahaya Tembakau atau Tobacco Harm Reduction (THR) mulai dilirik sebagai solusi alternatif untuk menurunkan prevalensi merokok di Indonesia.
Kolonel Laut (K) Dr. drg. Yun Mukmin A., Sp.Ort., menilai bahwa selama ini upaya menekan angka perokok yang hanya mengandalkan imbauan rutin dirasa kurang efektif. Menurutnya, diperlukan strategi yang lebih aplikatif dan berbasis bukti ilmiah agar penurunan angka perokok bisa terjadi secara signifikan.
"Kalau hanya sekadar imbauan, biasanya kurang mengena. Perlu ada strategi yang lebih jitu supaya prevalensi perokok itu menurun drastis. Maka penelitian dari akademisi bisa menjadi rujukan penting untuk menyusun program tersebut," ujar Yun Mukmin, dikutip Senin (4/5/2026).
Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Amaliya, mengungkapkan hasil penelitian terbarunya yang menunjukkan bahwa prevalensi merokok sangat tinggi di lingkungan dengan tingkat stres yang besar. Bagi banyak pekerja, merokok dianggap sebagai pelarian untuk menjaga fokus dan kewaspadaan.
Namun, Prof. Amaliya menegaskan bahwa rokok yang dibakar memiliki risiko kesehatan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, kehadiran produk tembakau alternatif menjadi sangat krusial dalam mengisi celah bagi perokok dewasa yang sulit berhenti total.
“Strategi tobacco harm reduction ini merupakan anjuran atau complementary. Memberikan dukungan terhadap program berhenti merokok yang tetap menjadi gold standard,” jelas Prof. Amaliya.
Ia menambahkan, dengan beralih ke produk alternatif, paparan zat beracun dapat ditekan hingga 90% karena mengeliminasi proses pembakaran yang menghasilkan TAR. Secara klinis, penelitian yang dilakukan bersama University of Catania, Italia, menunjukkan dampak positif yang cepat.
“Mereka yang beralih ke produk tembakau alternatif memperlihatkan perilaku sel yang normal. Dalam tiga bulan, peredaran darah gusi lancar kembali dan indera perasa di lidah kembali normal,” paparnya.
Dr. Yun Mukmin juga menyoroti bahwa zat berbahaya muncul dari proses pembakaran, bukan pada nikotin itu sendiri. Dengan teknologi yang dipanaskan, bukan dibakar, kebutuhan nikotin tetap terpenuhi namun dengan risiko yang jauh lebih rendah.
Baca Juga: Paradoks Digital Nomad: Penyelamat Ekonomi atau Penjajahan Modern?
"Solusinya, daripada meneruskan produk rokok dibakar yang risiko penyakitnya tinggi, kenapa tidak switch ke produk tembakau bebas asap yang bahayanya lebih rendah?" pungkas Prof. Amaliya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN