Bisnis / Keuangan
Senin, 11 Mei 2026 | 09:17 WIB
Ilustrasi penurunan grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah ke level 6.959 pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Senin 11 Mei 2026.
  • PT Indo Premier Sekuritas memproyeksikan volatilitas pasar akan meningkat akibat rencana pengumuman rebalancing MSCI Index pada 12 Mei 2026 mendatang.
  • Kementerian ESDM berencana menaikkan tarif royalti komoditas pertambangan mulai Juni 2026, yang memicu ketidakpastian serta tekanan bagi sektor minerba di pasar.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih meloyo pada awal perdagangan, Senin 11 Mei 2026. IHSG dibuka melemah ke level 6.959.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.07 WIB, IHSG betah menghuni zona merah dengan turun 1,32 persen ke level 6.877.

Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 3,32 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,56 triliun, serta frekuensi sebanyak 262.600 kali.

Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 189 saham bergerak naik, sedangkan 393 saham mengalami penurunan, dan 377 saham tidak mengalami pergerakan.

Ilustrasi penurunan grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, MEDS, ASPI, FIRE, HALO, DKHH, PRIM, MORA.

Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya ASPR, SHIP, NIKL, ESIP, MGNA, TALF, MDIA, TALF.

Proyeksi IHSG

PT Indo Premier Sekuritas (Ipot) mengungkapkan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan diwarnai keputusan rebalancing MSCI Index. Rencananya, rebalancaing MSCI Index tersebut akan diumumkan pada 12 Mei 2026 besok.

Adapun, pada pekan ini perdagangan IHSG hanya berlangsung selama 3 hari, setelah ada libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus (14-15 Mei 2026).

Baca Juga: Hanya Berlangsung 3 Hari, IHSG Pekan Ini Akan Dibayangi Rebalancing MSCI

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, mengatakan rebalancing MSCI berpotensi memicu rotasi portofolio yang dapat menciptakan volatilitas jangka pendek pada saham-saham berkapitalisasi besar.

"Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan," ujarnya dalam riset hariannya, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, dari sisi kebijakan, Kementerian ESDM telah menggelar public hearing pada 8 Mei 2026 terkait usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak dan ini bukan sekadar wacana mengingat kebijakan tersebut ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026.

Dari seluruh komoditas yang terdampak, jelas Hari, emas mencatatkan kenaikan tarif paling signifikan secara persentase di batas bawah hingga 100 persen, yang memberikan tekanan langsung di tengah harga emas global yang saat ini berada di level sangat tinggi, sementara timah menjadi komoditas yang paling terpukul secara keseluruhan karena kenaikan tarif terjadi di kedua ujung rentang sekaligus.

"Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi sub sektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek," katanya.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Load More