Bisnis / Keuangan
Rabu, 13 Mei 2026 | 09:40 WIB
Ilustrasi [Pixabay/vjkombajn]
Baca 10 detik
  • Pasar kripto global mengalami tekanan pada 13 Mei 2026 akibat data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar.
  • Lonjakan inflasi hingga 3,8 persen dipicu oleh gangguan pasokan energi global akibat perang yang terjadi antara AS dan Iran.
  • Kondisi tersebut menyebabkan penurunan nilai aset kripto mayoritas, kecuali Binance Coin yang mencatatkan kenaikan harga secara moderat.

Suara.com - Pasar kripto kembali menghadapi tekanan besar pada perdagangan Rabu pagi (13/5/2026). Ambruknya harga aset digital utama dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi, memicu ketakutan kolektif bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mengambil langkah lebih ekstrem dalam menaikkan suku bunga.

Berdasarkan pantauan data dari CoinMarketCap pada pukul 06.20 WIB, nilai kapitalisasi pasar kripto secara global menyusut 1,47% menjadi US$ 2,68 triliun.

Bitcoin (BTC) mencatatkan penurunan sebesar 1,39%, kini diperdagangkan di level US$ 80.656 per koin. Jika dikonversikan ke Rupiah dengan kurs Rp 17.546, harga satu koin BTC setara dengan kurang lebih Rp 1,41 miliar.

Sentimen negatif ini merembet ke aset kripto lainnya yang tergabung dalam Indeks CoinDesk 20 dengan koreksi rata-rata 1,93%. Berikut rincian pergerakan beberapa aset besar:

Ethereum (ETH): Anjlok 2,47% ke posisi US$ 2.282.

Solana (SOL): Terperosok 2,94% menjadi US$ 94,69.

XRP: Terkoreksi 2,06% ke level US$ 1,44.

Dogecoin (DOGE): Turun tipis 0,78% ke US$ 0,11.

Di sisi lain, Binance Coin (BNB) justru mampu melawan arus dengan kenaikan moderat 0,36% di harga US$ 666.

Baca Juga: Wall Street Pecah Rekor di Tengah Harapan Damainya Perang, Berimbas ke IHSG?

Pemicu Utama: Efek Domino Perang AS-Iran terhadap Inflasi

Melonjaknya inflasi AS ke level 3,8% secara tahunan (year-on-year) pada April 2026 menjadi momok utama bagi investor. Ini merupakan angka tertinggi sejak tahun 2023.

Kenaikan biaya hidup di Negeri Paman Sam ini didorong oleh sektor energi yang melambung hampir 18% akibat gangguan pasokan minyak global di tengah berkecamuknya perang AS-Iran.

Departemen Tenaga Kerja AS mencatat bahwa lonjakan harga energi menyumbang lebih dari 40% dari total inflasi bulanan. Situasi ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed belum akan mengendurkan kebijakan moneter ketatnya, yang secara otomatis menekan aset-aset berisiko tinggi seperti kripto.

Laporan terbaru dari lembaga riset K33 memberikan perspektif menarik mengenai hubungan antara Bitcoin dan indeks saham teknologi, Nasdaq.

Meskipun korelasi 30 hari antara keduanya melonjak di atas 0,7, K33 menilai bahwa Bitcoin tidak bergerak semata-mata sebagai perpanjangan dari Nasdaq.

Load More