Bisnis / Keuangan
Rabu, 13 Mei 2026 | 09:40 WIB
Ilustrasi [Pixabay/vjkombajn]
Baca 10 detik
  • Pasar kripto global mengalami tekanan pada 13 Mei 2026 akibat data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar.
  • Lonjakan inflasi hingga 3,8 persen dipicu oleh gangguan pasokan energi global akibat perang yang terjadi antara AS dan Iran.
  • Kondisi tersebut menyebabkan penurunan nilai aset kripto mayoritas, kecuali Binance Coin yang mencatatkan kenaikan harga secara moderat.

Data historis menunjukkan bahwa saat Nasdaq mengalami reli kuat (naik lebih dari 10%), "beta" atau sensitivitas Bitcoin terhadap saham justru sering menurun. Artinya, BTC tidak selalu menggandakan keuntungan Nasdaq. Namun, dinamika ini berbalik saat pasar sedang jatuh; saat Nasdaq ambruk, Bitcoin cenderung mengalami deleveraging yang lebih keras karena sentimen risk-off yang kuat.

"Rezim saat ini menunjukkan bahwa meskipun korelasi tinggi, Bitcoin tidak berperilaku sebagai proxy leverage Nasdaq saat ekspansi pasar terjadi," tulis laporan K33.

Di tengah gejolak harga, ada secercah harapan dari sisi permintaan institusional melalui program saham preferen dari Strategy (STRC). Perusahaan ini diketahui rutin menerbitkan saham tambahan untuk ditukarkan menjadi kepemilikan Bitcoin setiap bulannya, terutama menjelang tanggal ex-dividen pada pertengahan bulan.

Volume akuisisi Bitcoin melalui skema STRC ini meningkat pesat dari 4.467 BTC pada awal tahun menjadi hampir 47.000 BTC pada April lalu.

Dengan datangnya jadwal pembagian dividen minggu ini, pasar memprediksi akan ada aksi beli Bitcoin dalam jumlah besar yang bisa menjadi penahan tekanan jual di pasar.

Load More