Bisnis / Energi
Selasa, 19 Mei 2026 | 06:39 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Instagram.com/realdonaldtrump)
Baca 10 detik
  • Harga minyak mentah Brent turun ke US$109 per barel setelah Presiden AS menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
  • Penundaan serangan tersebut dilakukan atas permintaan para pemimpin negara Arab di kawasan Teluk selama proses negosiasi berlangsung.
  • Konflik geopolitik memicu kenaikan imbal hasil obligasi global, ancaman inflasi, serta lonjakan biaya operasional pada sektor penerbangan dunia.

Berikut adalah dampak rembetan di pasar keuangan dan industri global:

  1. Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS & Jepang: Imbal hasil obligasi US Treasury 10-tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam setahun terakhir di angka 4,63% sebelum akhirnya melandai. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang jangka panjang (30 tahun) melonjak ke rekor tertinggi di level 4,2%, dan tenor 10 tahun melesat ke angka 2,8%—posisi tertinggi sejak Oktober 1996—menyusul rencana pemerintah setempat menerbitkan utang baru guna membiayai anggaran tambahan untuk meredam dampak ekonomi akibat perang.
  2. Kecemasan Risiko Inflasi di Eropa: Di Eropa, pergerakan imbal hasil obligasi di zona euro sempat dibuka menguat tinggi sebelum akhirnya ikut merosot sejalan dengan melandainya harga minyak. Isu ini turut menjadi pembahasan utama dalam pertemuan para menteri keuangan G7 di Paris. Kepala Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, saat ditanya mengenai aksi jual massal di pasar obligasi global, menjawab singkat: "Saya selalu khawatir, karena itulah tugas saya."
  3. Ancaman 'Summer of Pain' bagi Sektor Bisnis: Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, memperingatkan bahwa tingginya harga energi menempatkan perekonomian global dalam situasi yang mengkhawatirkan. "Kita sedang mendekati periode musim panas yang penuh penderitaan (summer of pain), kecuali jika blokade Selat Hormuz segera dibuka," ujarnya kepada BBC.
  4. Dilema Biaya Bahan Bakar Maskapai: Tingginya harga minyak mentah berimbas langsung pada lonjakan biaya avtur bagi maskapai penerbangan yang mulai memasuki puncak musim liburan. Maskapai penerbangan Ryanair melaporkan bahwa meskipun laba setahun penuh mereka naik menjadi €2,26 miliar, ketidakpastian akibat perang Iran dan konflik Rusia-Ukraina membuat proyeksi bisnis ke depan sulit diprediksi. Ryanair menyatakan telah mengunci harga untuk 80% kebutuhan bahan bakar mereka melalui kontrak lindung nilai (hedging), namun sisa 20% pasokan lainnya tetap terekspos lonjakan harga pasar akibat konflik geopolitik tersebut.
     

Load More