Bisnis / Keuangan
Selasa, 19 Mei 2026 | 11:24 WIB
Gedung Bank BRI. (Dok: BRI)
Baca 10 detik
  • Saham BBRI menguat 0,7 persen ke level Rp3.090 pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, di tengah pelemahan IHSG.
  • Penguatan saham BBRI didorong oleh aksi beli bersih investor asing yang mencapai Rp52,22 miliar hingga Rp104,5 miliar.
  • Analis memproyeksikan potensi pembalikan arah saham BBRI dan menyarankan strategi pembelian akumulatif karena fundamental perusahaan yang tetap kuat.

Suara.com - Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (19/5/2026), saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) justru mencuri perhatian dengan pergerakan yang cukup resilien.

Hingga pukul 11.16 WIB, saham perbankan blue chip ini tercatat menguat tipis 0,7 persen ke level Rp3.090 per lembar saham.

Penguatan ini menjadi oase di tengah sentimen pasar yang masih penuh ketidakpastian. Momentum positif ini disinyalir merupakan reaksi pasar setelah investor asing secara agresif kembali masuk ke saham BBRI. Tercatat pada perdagangan Senin (18/5), investor asing membukukan net buy sebesar Rp52,22 miliar.

Menariknya, catatan transaksi dari Macquarie Sekuritas Indonesia bahkan menunjukkan angka yang lebih impresif, dengan net buy asing di saham BBRI mencapai Rp104,5 miliar pada sesi yang sama.

Aksi serok ini memutus tren negatif setelah selama tiga hari perdagangan sebelumnya, BBRI selalu dibayangi oleh aksi jual bersih (net sell) asing.

Analisis Teknikal: Peluang Reversal Terbuka Lebar

Meskipun secara akumulasi dalam sebulan terakhir harga saham BBRI masih mengalami koreksi sebesar 10,79 persen, para analis melihat adanya tanda-tanda pembalikan arah (reversal) yang mulai terbentuk.

CGS International Sekuritas dalam proyeksinya untuk perdagangan hari ini telah mematok level support pertama pada posisi 3.013 dan support kedua di 2.967.

Sementara itu, untuk sisi atas, BBRI berpeluang untuk menguji level resistance pertama di 3.103 dan resistance kedua di 3.147.

Baca Juga: Saham-saham Milik Prajogo Pangestu Rontok Setelah Terlempar dari MSCI Indeks

Secara teknikal, terdapat beberapa indikator yang menguatkan sinyal optimisme:

  • Indikator RSI (Relative Strength Index): Menunjukkan adanya positive divergence, yang menandakan bahwa tekanan downtrend pada saham ini mulai terbatas.
  • Pola Bullish Spinning Top Candle: Kemunculan pola ini yang disertai dengan kenaikan volume perdagangan menjadi indikasi kuat adanya peluang limited downside, atau risiko penurunan yang mulai menipis.

Rekomendasi Analis: Strategi Accumulative Buy

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat momentum saat ini sebagai peluang bagi investor untuk mulai kembali masuk ke sektor perbankan.

Ia merekomendasikan strategi accumulative buy untuk BBRI, mengingat posisinya sebagai saham blue chip yang memiliki fundamental kuat di tengah fluktuasi pasar.

Selain BBRI, arus masuk dana asing (capital inflow) juga terlihat menyasar saham-saham perbankan besar lainnya. Tercatat pada perdagangan kemarin, investor asing juga memborong BBCA senilai Rp107,07 miliar dan BMRI mencapai Rp84,87 miliar.

Emiten sektor telekomunikasi dan pertambangan pun tak luput dari radar asing, dengan TLKM mencatatkan net buy Rp59,27 miliar dan MDKA senilai Rp56,58 miliar.

Load More