Bisnis / Keuangan
Kamis, 21 Mei 2026 | 18:08 WIB
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan akhirnya angkat suara terkait gejolak pasar keuangan nasional yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah bergerak liar dalam beberapa waktu terakhir. (Instagram/@luhut.pandjaitan)
Baca 10 detik
  • Luhut minta maaf ke investor global soal gejolak IHSG dan rupiah.
  • DEN klaim ekonomi RI masih kuat dengan inflasi terjaga 2,4%.
  • Pemerintah siapkan stimulus baru antisipasi dampak harga minyak.

Suara.com - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan akhirnya angkat suara terkait gejolak pasar keuangan nasional yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah bergerak liar dalam beberapa waktu terakhir. Di hadapan para investor dan manajer investasi global di Singapura, Luhut bahkan menyampaikan permintaan maaf atas kondisi yang membuat sebagian investor mengalami dampak negatif.

Dalam video pertemuan yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya pada Kamis (21/5/2026), Luhut mengakui situasi ekonomi global yang dipicu ketegangan geopolitik serta lonjakan harga minyak turut memberi tekanan besar terhadap pasar domestik.

“Mengingat kita memiliki beberapa masalah di sini dan di sana, dan saya minta maaf juga, mungkin beberapa dari Anda memiliki dampak negatif karena situasi ini,” ujar Luhut.

Meski demikian, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup kuat. Ia mengklaim pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga di level 5,61% dengan inflasi yang masih terkendali di kisaran 2,4%.

Menurut Luhut, kemampuan pemerintah menjaga inflasi menjadi salah satu modal penting di tengah tekanan global yang semakin tidak menentu, terutama akibat kenaikan harga energi dunia.

“Inflasi kita masih bisa dikelola dengan baik, kira-kira di 2,4%. Kita berusaha untuk tidak menurun,” katanya.

Namun, Luhut mengingatkan ancaman berikutnya bisa muncul setelah Juli 2026. Ia mengaku sudah memberi sinyal kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah mulai menyiapkan stimulus ekonomi baru guna menjaga daya beli masyarakat.

Langkah antisipatif itu dinilai penting karena dampak kenaikan harga minyak diperkirakan mulai terasa terhadap harga barang dan aktivitas ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan.

“Setelah Juli kita harus melihat dengan jelas. Kita juga harus mempersiapkan stimulus untuk menjaga ekonomi kita, karena kita mengerti dampak harga minyak pada ekonomi kita,” papar Luhut.

Baca Juga: Danantara Sumberdaya Jadi Biang Kerok, IHSG Masuk Level 6.000

Pernyataan Luhut muncul di tengah tekanan besar terhadap pasar keuangan domestik. Pelemahan rupiah dan fluktuasi IHSG belakangan dipicu kombinasi sentimen eksternal, mulai dari konflik geopolitik global, lonjakan harga minyak mentah, hingga kekhawatiran investor terhadap arah suku bunga dunia.

Load More