- PT Bank Tabungan Negara mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1,45 triliun hingga April 2026, meningkat 43,84 persen secara tahunan.
- Peningkatan laba didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 12,85 persen serta keberhasilan perusahaan menekan beban bunga operasional.
- Direktur Utama BTN optimistis kinerja positif akan terus berlanjut berkat fundamental bisnis kuat dan tingginya kebutuhan hunian masyarakat.
Suara.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN bersama entitas anaknya, Bank Syariah Nasional, membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 1,45 triliun hingga April 2026.
Laba bersih ersebut naik 43,84 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,01 triliun.
Selain laba bersih, pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) BTN juga tumbuh 12,85 persen yoy menjadi Rp 5,57 triliun dari sebelumnya Rp 4,94 triliun pada April 2025.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, perseroan optimistis tren pertumbuhan kinerja masih akan berlanjut seiring kuatnya kebutuhan masyarakat terhadap hunian.
"Di tengah ketidakpastian kondisi global, BTN tetap mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja yang positif karena didukung fundamental bisnis yang kuat dan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap hunian. Kami optimistis momentum ini dapat terus berlanjut seiring transformasi bisnis dan penguatan ekosistem perumahan yang terus dijalankan perseroan," ujar Nixon di Jakarta, Jumat (22/6/2026).
Di sisi lain, BTN berhasil menekan beban bunga menjadi Rp 5,01 triliun atau turun 16,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 5,98 triliun. Penurunan biaya dana tersebut ikut memperkuat profitabilitas perseroan pada empat bulan pertama tahun ini.
Kinerja operasional BTN juga menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga April 2026, laba operasional konsolidasi tercatat sebesar Rp 1,87 triliun atau tumbuh 47,66 persen yoy dibandingkan April 2025 sebesar Rp 1,27 triliun.
Sementara itu, pre provision operating profit (PPOP) meningkat menjadi Rp 3,13 triliun atau naik 20,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,60 triliun.
BTN juga mencatatkan beban pencadangan atau CKPN sebesar Rp1,26 triliun hingga April 2026 sebagai bagian dari langkah menjaga kualitas aset dan pencadangan kredit secara pruden.
Baca Juga: Kolaborasi BTN dan KAI Hadirkan 5.400 Unit Hunian TOD Baru
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Presiden RI dan PM Singapura Tegaskan Kesepakatan Perihal Selat Malaka
-
Mulai Juli 2026, Pemutihan Data SLIK Wajib Selesai dalam 3 Hari Kerja
-
Sudah Dapat 4 Juta Ha Lahan, Agrinas Akan Buka 400.000 Ha Kebun Sawit Baru
-
Penyeragaman Kemasan Rokok Akan Picu Masalah-masalah Baru
-
Agrinas Palma Buka 20.000 Lowongan Pekerjaan di Perkebunan Sawit Hasil Sitaan Satgas PKH
-
Riwayat Pinjol Kecil 'Dihapus' dari SLIK OJK, Ajukan KPR Kini Bisa Lebih Mudah
-
Ekonomi Kreatif Disiapkan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Jakarta, OJK Perkuat Akses Pembiayaan
-
Utang di Bawah Rp1 Juta Tidak Masuk SLIK OJK, Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Lagi-lagi SLIK Biang Masalah, Bikin Susah MBR Punya Rumah Murah
-
Terungkap! Masifnya Aliran Dana Investasi Kripto RI Rata-rata Hasil Penipuan