- Tabungan dolar di bank tumbuh lebih dari 23%.
- Rupiah melemah, warga mulai diversifikasi aset.
- OJK pastikan kondisi perbankan masih aman.
Suara.com - Melemahnya rupiah ternyata ikut mengubah perilaku masyarakat Indonesia dalam menyimpan uang. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik dunia, masyarakat kini makin rajin menyimpan dolar AS di perbankan nasional.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam valuta asing (valas) hingga April 2026 tumbuh 10,87% secara tahunan (year on year/yoy). Lonjakan paling mencolok terjadi pada tabungan valas yang melesat 23,21% yoy dan deposito valas yang naik hingga 22% yoy.
Fenomena ini terjadi saat rupiah menghadapi tekanan dari sentimen global, mulai dari tensi geopolitik hingga kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat memilih diversifikasi aset dengan menempatkan dana dalam mata uang asing.
Meski demikian, OJK menegaskan kondisi perbankan nasional masih sangat aman. Secara keseluruhan, DPK perbankan masih tumbuh sehat sebesar 11,39% yoy hingga April 2026 dan tetap didominasi simpanan rupiah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan peningkatan simpanan valas memang terlihat sejak awal tahun, namun masih dalam batas wajar.
“Porsi DPK valas terhadap total DPK sampai saat ini relatif stabil di kisaran 15%-16%,” ujar Dian dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).
Menurut OJK, pertumbuhan deposito dolar juga dipicu suku bunga valas yang kini lebih kompetitif. Bank-bank disebut memberikan insentif lebih menarik bagi eksportir agar menyimpan devisanya di dalam negeri.
Di sisi lain, ketahanan industri perbankan nasional dinilai masih solid. Rasio kecukupan modal (CAR) tetap tinggi, likuiditas memadai, dan eksposur risiko nilai tukar masih terkendali. Rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan juga masih jauh di bawah ambang batas maksimal.
Namun, OJK tetap mewaspadai dampak lanjutan dari kenaikan harga minyak global yang berpotensi memicu imported inflation dan cost-push inflation terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga: Ketidakpastian Kebijakan Pemerintah Seret Rupiah Semakin Melemah
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Bisa Borong, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.655.000/Gram
-
Bergerak Dua Arah, IHSG Masih Bertengger di Level 5.900
-
Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Bayang-Bayang Melimpahnya Pasokan
-
SMGR Catat Penjualan Semen Tumbuh 4,4% hingga Mei 2026
-
Home Credit Genjot Pembiayaan Usai Penyaluran Kredit Tumbuh 14% pada Kuartal I 2026
-
BEI Gunakan Fitur Repo SBSN di SPPA, Dorong Likuiditas Pendalaman Pasar Keuangan
-
Bank Mandiri Salurkan KUR Rp17,77 Triliun hingga Mei 2026, Sektor Pertanian Jadi Penerima Terbesar
-
Presiden RI dan PM Singapura Tegaskan Kesepakatan Perihal Selat Malaka
-
Mulai Juli 2026, Pemutihan Data SLIK Wajib Selesai dalam 3 Hari Kerja
-
Sudah Dapat 4 Juta Ha Lahan, Agrinas Akan Buka 400.000 Ha Kebun Sawit Baru