Bisnis / Makro
Kamis, 28 Mei 2026 | 08:36 WIB
Ilustrasi. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa sejak awal pendirian, PT DSI memang dirancang sebagai entitas bisnis yang berorientasi murni pada profit, bukan sekadar lembaga administratif. Foto ist.
Baca 10 detik
  • PT DSI wajib kejar profit dari tata kelola ekspor komoditas SDA satu pintu.
  • Fokus awal PT DSI menyasar perdagangan ekspor CPO, batu bara, dan ferro alloy.
  • Manajemen PT DSI dipimpin mantan Direktur Vale Indonesia & Mandiri Sekuritas.

Suara.com - PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sudah harus membidik keuntungan besar (profit for profit) dari tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) satu pintu, kendati belum sepenuhnya siap beroperasional penuh pada tahun ini.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa sejak awal pendirian, PT DSI memang dirancang sebagai entitas bisnis yang berorientasi murni pada profit, bukan sekadar lembaga administratif.

"Dari awal karena kebetulan di bawah Danantara, dan namanya Danantara Sumberdaya Indonesia, ide awalnya memang menjadi suatu perusahaan dan perusahaan BUMN yang memang harus profit for profit," ujar Pandu dalam agenda Investor Daily Round Table, Selasa (26/5/2026).

Mengingat PT DSI baru berumur jagung, Pandu menyebutkan ekspansi tugas dan operasional perusahaan akan dilakukan secara bertahap dan terukur agar tidak kehilangan fokus arah bisnisnya.

"Jadi biar jelas saja. Dari sisi PT DSI sendiri, ini namanya 'you cannot get all three on one go'. Semuanya selangkah demi selangkah. Jadi awalnya menjadi agent of business dahulu," tambahnya.

Meski bertahap, akselerasi pertumbuhan internal diprediksi berjalan kilat. Pandu membandingkan linimasa DSI dengan pertumbuhan organik BPI Danantara yang melesat dalam setahun terakhir.

"Kita mulai Februari [2025] dengan 3 orang. Akhir Maret sudah 30 orang. Sekarang, setahun kemudian 450 orang. Saya rasa linimasanya serupa, mungkin [PT DSI] bisa sedikit lebih cepat," kata Pandu optimistis.

Pada tahap awal operasionalnya, PT DSI akan memfokuskan lini bisnisnya pada skema jual-beli komoditas strategis yang telah dipastikan masuk ke dalam sistem ekspor satu pintu. Tiga komoditas utama tersebut adalah Minyak Kelapa Sawit atau crude palm oil (CPO), batu bara, dan paduan besi (ferro alloy).

"Fokus kami tadi sesuai dengan mandat ya, kita membeli dan terus menjual. Hal-hal yang lain di luar itu belum bisa kami diskusikan karena kita perlu menjalani terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan berbicara juga dengan sektor swasta soal ini," jelas Pandu.

Baca Juga: BEI Intensif Bertemu MSCI dan FTSE, Bahas Status Pasar Modal Indonesia

Berdasarkan data dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum, PT Danantara Sumberdaya Indonesia resmi didirikan pada 18 Mei 2026. Perusahaan holding ini bermarkas di Wisma Danantara Indonesia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Modal dasar awal DSI tercatat sebesar Rp100 juta, yang terbagi atas 399 lembar saham seri A senilai Rp99.750.000 dan 1 lembar saham seri B senilai Rp250.000.

Komposisi kepemilikan sahamnya ditempatkan kepada PT Danantara Asset Management (DAM) selaku pemegang 99 lembar saham seri A (Rp24.750.000), sementara saham Seri B dipegang penuh oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pemegang kendali utama sebesar Rp250.000.

Saat ini pemegang saham mempercayakan posisi Direktur Utama kepada Luke Thomas Mahony, yang merupakan mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Sementara posisi Komisaris Utama diisi oleh Harold Jonathan Dharma TJ, bankir investasi senior yang pernah menjabat Direktur Mandiri Sekuritas.

Load More