- Sinergi ekosistem GoTo membantu PT Bank Jago Tbk menekan biaya operasional serta akuisisi nasabah secara efisien.
- Bank Jago berhasil menjaga rasio dana murah sebesar 53 persen untuk menciptakan struktur pendanaan yang stabil.
- Fitch memproyeksikan peningkatan margin bunga bersih Bank Jago melalui penyaluran kredit ritel dan UKM yang menguntungkan.
Suara.com - Kedekatan strategis antara PT Bank Jago Tbk dengan pemegang sahamnya, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), terbukti menjadi motor penggerak utama dalam efisiensi operasional bank.
Fitch Ratings Indonesia menilai keterkaitan erat dengan salah satu platform layanan on-demand dan e-commerce terbesar di tanah air tersebut berhasil menjaga biaya pendanaan (cost of fund) serta biaya akuisisi nasabah Bank Jago tetap berada di level yang rendah.
Sinergi ekosistem ini memungkinkan Bank Jago untuk terus memacu pertumbuhan dan menyalurkan kredit secara menguntungkan, di tengah skala operasional bisnisnya yang relatif masih terbatas dan riwayat historisnya yang singkat sebagai bank digital murni.
Kendati demikian, Fitch mengingatkan adanya tantangan inheren dalam industri perbankan digital, yaitu rendahnya hambatan bagi nasabah untuk berpindah platform (switching cost).
Oleh sebab itu, Bank Jago dituntut untuk terus memperdalam hubungan dengan basis nasabah besarnya serta memperluas rangkaian variasi produk komersialnya.
Sokongan dari ekosistem GoTo berdampak sangat positif terhadap profil pendanaan bank. Bank Jago tercatat sukses mengamankan porsi rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) di kisaran 53 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) per akhir Maret 2026. Struktur ini menciptakan basis pendanaan yang lebih stabil dan berbiaya murah.
Meskipun konsentrasi deposan besar masih tergolong tinggi, tingkat ketergantungan Bank Jago terhadap deposito yang terafiliasi langsung dengan GoTo terpantau terus menurun dalam beberapa tahun terakhir berkat keberhasilan ekspansi simpanan ritel mandiri.
Di sisi lain, risiko likuiditas jangka pendek dinilai telah termitigasi dengan sangat baik. Hal ini tercermin dari kepemilikan penyangga likuiditas yang sangat longgar, di mana Rasio Cakupan Likuiditas (Liquidity Coverage Ratio) melonjak di level 433 persen dan Rasio Pendanaan Stabil Bersih (Net Stable Funding Ratio) berada di posisi 130 persen.
Prospek Margin Bunga di Tengah Kenaikan BI Rate
Baca Juga: Setelah Dibeli Danantara, GOTO Jadi Saham Paling Aktif Diperdagangkan Hingga Sesi I
Kondisi likuiditas yang sehat ini menjadi modal penting bagi Bank Jago dalam menghadapi tantangan lingkungan operasional makroekonomi domestik.
Fitch memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh stabil di level 5,1 persen pada tahun 2026 dan 5,0 persen pada tahun 2027, yang secara umum mendukung volume bisnis sektor keuangan.
Namun, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen per Mei 2026 demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, diprediksi akan mengerek biaya deposito perbankan nasional.
Fitch melihat bank-bank dengan skala kecil memiliki kerentanan lebih tinggi akibat keterbatasan kemampuan menentukan harga (pricing power).
"Model bisnis digital memungkinkan Bank Jago untuk memperkuat rasio biaya terhadap pendapatan (Cost-to-Income Ratio) seiring dengan tercapainya skala ekonomi yang lebih besar dalam satu hingga dua tahun ke depan," tulis Fitch dalam laporan analisisnya.
Fitch memproyeksikan tingkat pengembalian yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted returns) Bank Jago justru akan meningkat. Akselerasi penyaluran kredit ritel dan UKM yang menghasilkan imbal hasil (yield) tinggi diperkirakan mampu mendorong ekspansi Margin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM).
Kenaikan NIM bersama dengan pertumbuhan pendapatan non-bunga (fee-based income) diyakini akan lebih dari cukup untuk menutup pembengkakan biaya kredit dan biaya pendanaan akibat efek pengetatan moneter makro.
Berita Terkait
-
Fitch Afirmasi Peringkat Bank Jago (ARTO) di Level A dengan Outlook Stabil
-
Digendong GoTo dan Grab, Sayurbox dan HappyFresh Mau Merger?
-
FTSE Tendang 8 Saham IHSG dari Indeks Global Equity, Ada DSSA, NCKL Hingga GOTO
-
MSCI Bekukan Rebalancing, Begini Nasib Saham GOTO
-
Uang Negara Menguap Triliunan! Kejagung Didesak Bongkar Mafia di Balik Investasi Telkomsel ke GoTo
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Harga Emas Antam Tetap Dibanderol Rp 2.774.000/Gram Hari Ini, Saatnya Beli?
-
IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
Terkini
-
Harga Emas Antam Tetap Dibanderol Rp 2.774.000/Gram Hari Ini, Saatnya Beli?
-
Tinggalkan Perang Bunga, BTN Kini Kejar CASA Lewat Ecosystem Banking
-
Harga Emas di Pegadaian Turun Semua Hari Ini, Cek Daftarnya di Sini!
-
Fitch Afirmasi Peringkat Bank Jago (ARTO) di Level A dengan Outlook Stabil
-
IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini
-
Ratusan Bank dan Bank Syariah Resmi Merger Massal, Ini Dampaknya!
-
Dari Sedekah Muncul Ide Usaha, Sandal Produksi Rumahan Ini Kini Tembus Pasar Nasional
-
Rapor Perbankan April 2026: Bank Mandiri Solid, Bagaimana dengan BCA?
-
IHSG Hari Ini: Analis Sarankan Fokus Saham 'Big Banks' dan Konglomerasi, Kenapa?
-
Diversifikasi Aset ke Luar Negeri, Strategi Timeless Amankan Kekayaan?