- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia anjlok hampir 39 persen sepanjang tahun 2026 hingga Juni.
- Sebanyak 3,6 miliar dolar AS dana asing keluar dari pasar modal Indonesia akibat ketidakpastian kebijakan ekonomi pemerintah.
- Pasar modal Indonesia terancam turun kasta saat lembaga global melakukan evaluasi peringkat pada Juni 2026 mendatang.
Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) kini menjadi gudang ratapan dan gertak gigi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus anjlok dan sepanjang 2026 sudah turun nyaris 39 persen.
Pada Senin (8/6/2026) IHSG ditutup melemah 252,63 poin atau 4,52 persen ke posisi 5.342,14 - capaian paling jeblok bahkan dalam lima tahun terakhir.
Menurut catatan Bloomberg, hingga dari Januari hingga Juni 2026, sudah sekitar 3,6 miliar dolar AS dana asing yang kabur dari pasar modal Indonesia. Investor asing, yang menjadi tulang punggung pasar modal, ramai-ramai kabur dari Indonesia.
Sejumlah pengamat mengatakan penurunan IHSG ini adalah masalah domestik. Pemerintah disebut yang paling bertanggung jawab atas ambruknya pasar modal Indonesia.
Ketidakpastian, kredibilitas dan kualitas kebijakan yang rendah yang diperparah oleh komunikasi yang buruk ke para investor membuat pasar modal Indonesia kini terancam turun kasta.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan faktor domestik adalah faktor utama ambruknya IHSG. Ia menjelaskan tekanan yang terjadi terhadap pasar modal Indonesia menunjukkan adanya proses repricing - yakni investor global menghitung ulang risiko untuk memutar uangnya di pasar saham Indonesia.
Ketika kurs rupiah melemah, IHSG terus terkoreksi dan arus dana asing keluar (capital outflow), menurutnya, pasar pada dasarnya sedang menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.
“Dalam kondisi seperti ini, investor tidak hanya melihat potensi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai seberapa besar risiko yang harus mereka tanggung,” ujar Hendra.
Baca Juga: IHSG Terus Lanjutkan Pelemahan Pagi Ini ke Level 5.486
Analisis senada juga disampaikan oleh Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam riset mereka pekan lalu. Disebutkan bahwa para investor sudah kehilangan kepercayaan pada Indonesia.
"Investor global tidak sedang meninggalkan pasar Emerging Market, tapi hanya Indonesia," tulis para periset Kiwoom.
Kiwoom melihat investor kini sedang menimbang-nimbang, apakah Indonesia masih layak dilirik sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan yang tinggi atau justru sedang bergerak turun menuju pasar dengan premi risiko tinggi - seperti negara miskin.
Ketidakpastian tinggi
Menurut para periset Kiwoom, ada lima faktor yang membuat investor cabut dari Indonesia. Pertama investor tak percaya lagi pada kebijakan ekonomi Indonesia. Kebijakan dan aturan di Indonesia di bawah rezim Prabowo Subianto kini mudah berubah, sukar diprediksi dan kualitasnya rendah.
Kedua, terus anjloknya nilai tukar rupiah yang kini sudah mencapai di atas Rp18.000 per dolar AS. Artinya sebentar lagi akan terjadi inflasi akibat naiknya biaya impor dan mengarah ke semakin lemahnya daya beli masyarakat.
Ketiga, menyusutnya kelas menengah yang menjadi motor ekonomi Indonesia. Pada 2025, kelas menengah hanya tinggal 46,6 juta orang dari 61,5 juta pada 2018 silam.
Keempat, aliran modal asing terus mengalir keluar Indonesia. Hal ini membuat sentimen negatif ke Indonesia semakin kencang.
Kelima, pemerintah dinilai kurang cakap dalam menyampaikan pesan serta kebijakan ekonomi strategis ke para investor global. Alhasil, ketidakpercayaan tumbuh semakin tinggi.
Turun kelas?
Salah satu risiko jangka pendek yang paling berdampak adalah de-rating. Dalam periode satu pekan ke depan, pasar modal Indonesia berisiko turun kasta setelah sejumlah lembaga pemeringkat global akan mengumumkan hasil evaluasi mereka terhadap pasar domestik.
Setidaknya ada tiga momen kunci pada pekan depan.
Pertama, pada 9 Juni akan ada MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review. Kedua, FTSE Russell Rebalancing Effective Date pada 22 Juni. Terakhir, MSCI Annual Market Classification Review 2026 pada 24 Juni.
Menurut Kiwoom, evaluasi ini menjadi semacam referendum para investor global untuk memutuskan apakah Indonesia masih layak untuk menjadi tempat investasi.
Jika MSCI dan FTSE mempertahankan rating Indonesia sebagai Emerging Market tanpa perusahaan berarti, maka keraguan investor akan perlahan hilang. Harapannya, para investor akan kembali percaya dan mengalirkan duit mereka ke pasar ekuitas dalam negeri.
Jika yang terjadi sebaliknya, maka para investor akan mendapatkan konfirmasi: bahwa Indonesia memang benar-benar pasar yang bobrok dan layak untuk ditinggalkan. Maka saat itu, IHSG akan semakin jatuh semakin dalam.
Berita Terkait
-
Prabowo dalam Tekanan! Media Asing Sebut Anies Baswedan Saat Rupiah dan IHSG Kompak Jebol
-
Rupiah-IHSG Ambruk, Purbaya Akui Kelemahannya Ada di Komunikasi Pemerintah
-
Kepercayaan Investor Asing Hilang, Rupiah dan IHSG Kompak Melemah Hari Ini
-
IHSG Hancur Lebur di Sesi 1, Saham BBCA dan Big Banks Catat Harga Termurah!
-
Rupiah Jebol Rp18.110 dan IHSG Ambles 3%, Pasar Tak Percaya Jurus Baru Perry dan Purbaya?
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Anak-Anak Bambu: Ketika Rumah Beralas Bambu Mengajarkan Arti Keluarga
-
Sebelum Jadi Deputi BGN, Ini Warisan Penanganan Kasus Ketut Sumedana di Kejati Sumsel
-
Kawal Kuota Tak Hangus, DPR Wanti-wanti Operator: Jangan Siasati dengan Naikkan Tarif!
-
7 Zodiak dengan Pemikiran Dewasa dan Bijaksana Melebihi Umurnya
-
Dilema Jobseeker: Dituntut Berpengalaman, tetapi Tak Diberi Kesempatan
-
Pemerintah Siapkan SRUK Jadi Infrastruktur Perdagangan Karbon, Pendanaan Lingkungan Diperluas
-
Bro Ron Skakmat Pramono: Daripada Urus Orang Pindah Partai, Mending Beresin Bau Sampah Rorotan!
-
Tarif Lepas WNI Naik, Legislator Dorong Pemerintah Benahi Faktor Pemicu Warga Lepas Status WNI
-
Menu Digital di Restoran: Efisiensi yang Menggeser Kenyamanan Pelanggan
-
Margin Keuntungan Anjlok Parah Porsche Siapkan Gelombang PHK Massal Ribuan Pekerja