- B50 tetap berlaku 1 Juli meski evaluasi final belum diumumkan.
- Industri khawatir risiko teknis dan kesiapan mesin pengguna diesel.
- Kebutuhan sawit naik, potensi tekanan harga dan pasokan mengintai.
Suara.com - Pemerintah tetap bersikeras menjalankan mandatori biodiesel 50 persen (B50) mulai 1 Juli 2026 meskipun proses uji coba masih berlangsung dan evaluasi final belum diumumkan. Langkah ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku industri terkait kesiapan teknologi, risiko operasional, hingga potensi lonjakan kebutuhan bahan baku sawit di dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan implementasi B50 akan tetap berjalan sesuai jadwal. Namun, pemerintah masih melakukan serangkaian uji coba pada berbagai sektor strategis, mulai dari kendaraan bermotor, alat mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik hingga perkeretaapian.
"B50 sesuai dengan jadwal itu kan 1 Juli 2026 akan diimplementasikan. Saya mungkin satu minggu lagi akan melakukan rapat dengan tim uji coba. Sekarang kan kita uji coba terus semuanya," kata Bahlil saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta yang dikutip pada Selasa (9/6/2026).
Meski Bahlil mengklaim sekitar 80-90 persen hasil pengujian menunjukkan kinerja yang baik, pemerintah hingga kini belum merilis hasil evaluasi akhir yang menjadi dasar penerapan penuh program tersebut. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan seluruh sektor pengguna bahan bakar diesel menghadapi transisi ke campuran biodiesel yang lebih tinggi.
Penerapan B50 juga berpotensi meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik secara signifikan. Di satu sisi langkah ini ditujukan untuk mengurangi impor solar dan memperkuat ketahanan energi nasional. Namun di sisi lain, peningkatan permintaan sawit dikhawatirkan dapat memicu tekanan terhadap pasokan bahan baku industri lain serta meningkatkan volatilitas harga minyak sawit di pasar domestik.
Pemerintah memang mengklaim program B40 sebelumnya berhasil memberikan manfaat ekonomi besar, termasuk penghematan devisa hingga Rp133,3 triliun. Namun tantangan implementasi B50 dinilai jauh lebih kompleks karena melibatkan campuran biodiesel yang lebih tinggi dan membutuhkan adaptasi lebih besar pada berbagai jenis mesin dan peralatan industri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
- 4 Zodiak yang Diprediksi Hidup Lebih Tenang dan Damai di Akhir Juli 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Hari Mangrove Sedunia, Kilang Plaju Perkuat Komitmen Lestarikan Ekosistem Pesisir
-
Dari Gurih hingga Pedas, Menu Flavor Shake-Up Ajak Pecinta Kuliner Eksplorasi Beragam Rasa
-
Kejagung Jangan Berhenti di Febrie Adriansyah, Aktor Intelektual Harus Diburu
-
Port FC Petik Tiga Poin, Sarawut Treephan Sebut Kemenangan atas PSMS Jadi Modal Penting
-
Review Dikichi Kediri: Sensasi Crispy Hot Chicken yang Renyahnya Bikin Nagih!
-
Napi Lapas Pekanbaru Belum Ditemukan, Kabur saat Ambil Obat di Apotek
-
Dihukum 10 Tahun oleh KFA, Shin Tae-yong Tetap Tangani Persija
-
Perkuat Sektor Wing Back, Kendal Tornado FC Datangkan Eks Pemain Timnas U-19
-
Karhutla Mengamuk di Kubu Raya, Nyaris Lahap Permukiman Warga
-
Pembagian Seragam Gratis Pemprov Kaltim Terlambat, Orangtua Terpaksa Beli Dulu