- Nilai tukar Rupiah menguat ke level Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu (10/6/2026) setelah sebelumnya sempat melemah signifikan.
- Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menginisiasi konsolidasi lintas lembaga untuk memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter nasional.
- Pemerintah berencana meningkatkan daya tarik instrumen keuangan dan melakukan pembelian kembali saham strategis guna menjaga stabilitas pasar modal.
“Sebab kalau bunga luar negeri naik, akan ada outflow. Ada saham serta SBN dan yang kecil di SRBI. Karena itu, fiskal dan moneter sepakat meningkatkan daya tarik timbal hasil, supaya inflow lagi," jelasnya.
Selain itu, kesepakatan mengenai pengelolaan likuiditas kas negara dengan mekanisme remunerasi yang tepat diharapkan mampu menjaga operasi moneter tanpa mengganggu ruang fiskal.
“Kuncinya tentu harus ada likuiditas cukup pada pasar uang maupun perbankan. Jalannya, BI tetap mengeloa kas pemerintah. Tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayar ke pemerintah. Dengan cara itu, operasi meneter tetap jalan dan menstabilisasi nilai tukar Rupiah. Sementara operasi fiskalnya mendukung."
Intervensi Pasar Modal dan Wacana Buyback Saham
Tak berhenti di hari Sabtu dan Minggu, Sufmi Dasco Ahmad melanjutkan aksinya pada Selasa (9/6/2026). Kali ini, fokus bergeser ke sektor pasar modal yang juga sempat mengalami koreksi.
Dasco mengumpulkan pimpinan bank-bank yang tergabung dalam Himbara atau Himpunan Bank Milik Negara serta perwakilan pemerintah, untuk membahas performa saham perbankan pelat merah.
Dasco menilai, pelemahan harga saham bank BUMN baru-baru ini lebih disebabkan oleh sentimen global daripada masalah fundamental.
"Sejujurnya, bagus-bagus. Tapi dengan situasi pasar yang dipengaruhu situasi global, akhirnya terdampak," kata Dasco.
Salah satu poin krusial yang dilempar ke pasar adalah wacana pembelian kembali atau buyback saham-saham strategis, yang harganya sedang terdiskon.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Level Rp17.908 per Dolar AS Paling Perkasa di Asia
Langkah ini dipandang sebagai bentuk komitmen negara dalam menjaga nilai perusahaan-perusahaan strategisnya.
"Pada kesempatan yang tepat, bisa buyback saham-saham di pasar," kata dia.
Dasco juga menyebutkan keterlibatan lembaga besar seperti Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, hingga PT Taspen dalam rencana penguatan pasar ini.
"Saham-saham yang bagus, mungkin bisa dibeli kembali," tuturnya.
Fundamental Perbankan yang Solid
Menanggapi manuver tersebut, Direktur Utama BNI sekaligus Ketua Umum Himbara, Putrama Wahju Setyawan, memberikan jaminan kepada para investor. Ia memastikan bahwa kondisi internal perbankan negara saat ini berada dalam posisi paling prima dengan likuiditas yang sangat sehat.
"Kami melaporkan kepada Pak Dasco tentang kinerja emiten serta Himbara. Secara fundamental, kinerja di Himbara sangat bagus. Saat ini adalah kinerja terbaiknya," kata Putrama.
Ia merinci pertumbuhan kredit Himbara mencapai kisaran 20 persen, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh hingga 30 persen.
Angka ini jauh di atas rata-rata industri, yang menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi domestik masih sangat kuat.
"Karenanya, tak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap situasi fundamental bursa," tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa loan to deposit ratio (LDR) terjaga di angka 88 hingga 90 persen.
"Likuiditas terjaga sangat baik. LDR pada kisaran 88 persen sampai 90 persen," kata dia.
Reaksi Pasar dan Penguatan Rupiah
Rangkaian komunikasi publik yang intensif dari hari Sabtu hingga Selasa tersebut terbukti menjadi amunisi bagi Rupiah untuk bangkit.
Ditambah lagi dengan keputusan Bank Indonesia pada Selasa (9/6) yang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, pasar melihat adanya keseriusan total dalam menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia.
Sentimen positif ini sangat dirasakan oleh para pelaku usaha dan investor di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Investor asing yang sebelumnya cenderung wait and see mulai kembali melirik aset-aset berbasis Rupiah karena melihat adanya kepastian komunikasi politik dan ekonomi yang sinkron.
Tag
Berita Terkait
-
Rupiah Menguat ke Level Rp17.908 per Dolar AS Paling Perkasa di Asia
-
Dasco: Pak Luhut dan Chatib Basri Mengadap Presiden Prabowo soal Strategi Ekonomi
-
Ini Isi Pertemuan Prabowo dengan Chatib Basri di Istana
-
UU Polri Baru Disahkan, tapi Reformasi Butuh Lebih dari Sekadar Pasal
-
Rumor Pergantian Menkeu Menguat Usai Chatib Basri Bertemu Prabowo, Ini Kata Dasco
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda