Bisnis / Keuangan
Jum'at, 12 Juni 2026 | 16:09 WIB
Banyak faktor penyebab investor asing malas masuk ke Pasar Saham RI, salah satunya pelemahan nilai tukar rupiah. [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym].
Baca 10 detik
  • Kiwoom Sekuritas menyatakan gelaran Piala Dunia 2026 berpotensi mengalihkan dana masyarakat Indonesia ke aktivitas judi bola daring.
  • Dana sekitar Rp 30 triliun hingga Rp 60 triliun diprediksi mengalir ke perjudian dan mengurangi likuiditas investasi produktif domestik.
  • Penyebab utama minimnya dana asing tetap berasal dari tingginya risiko premium akibat pelemahan rupiah dan ketidakpastian kebijakan nasional.

Suara.com - Kiwoom Sekuritas menilai mandeknya dana asing masuk ke pasar saham Indonesia, karena berbagai faktor seperti gelaran Piala Dunia. Sebab, para investor asing mulai terditraski dengan judi bola selama pesta sepak bola itu.

Dalam riset terbarunya, Kiwoom menyebut nilai taruhan legal global selama World Cup 2026 yang digelar di Amerika Utara berpotensi mencapai USD 60 miliar atau melonjak 71 persen dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar.

Bagi Indonesia, dampaknya dinilai bukan berasal dari pasar saham secara langsung, melainkan dari potensi dana masyarakat yang mengalir ke aktivitas perjudian, terutama judi bola selama turnamen berlangsung.

Kiwoom mencatat transaksi judi online di Indonesia pada 2025 mencapai Rp 286,8 triliun. Dengan asumsi tren yang sama berlanjut saat Piala Dunia berlangsung, dana yang berputar ke aktivitas judi bola diperkirakan mencapai Rp 30 triliun hingga Rp 60 triliun.

Ilustrasi taruhan judi bola (Freepik.com/freepik)

Nilai tersebut bukan angka yang kecil. Kiwoom bahkan membandingkannya dengan arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia sepanjang tahun berjalan.

"Jika dibandingkan, nilai tersebut setara 40 persen-70 persen dari total foreign net sell IHSG year to date," tulis Kiwoom Sekuritas dalam risetnya, Jumat (12/6/2026).

Menurut Kiwoom, risiko utama dari fenomena tersebut bukanlah tekanan langsung terhadap pasar modal, melainkan berkurangnya likuiditas yang seharusnya dapat digunakan untuk konsumsi maupun investasi produktif di dalam negeri.

"Risiko terbesar bukan pada pasar saham secara langsung, melainkan berkurangnya likuiditas yang seharusnya dapat mengalir ke konsumsi dan investasi produktif domestik," lanjut riset tersebut.

Meski demikian, Kiwoom menilai Piala Dunia 2026 bukan penyebab utama investor asing masih menahan diri untuk masuk ke Indonesia.

Baca Juga: Sinyal Cuan Piala Dunia 2026: 7 Saham Indonesia yang Berpotensi Cetak Gol untuk Investor

Faktor yang lebih dominan tetap berasal dari tingginya risk premium Indonesia akibat pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan tata kelola.

"SpaceX, World Cup, dan demo mahasiswa bukan ancaman utama foreign outflow Indonesia. Ketiganya lebih tepat dipandang sebagai additional reasons to wait, sementara akar persoalan tetap berada pada tingginya risk premium Indonesia akibat pelemahan Rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta kekhawatiran fiskal dan governance," tulis Kiwoom.

Di sisi lain, Kiwoom melihat sejumlah faktor yang sempat memicu kepanikan pasar mulai menunjukkan perbaikan.

Rupiah mulai bergerak stabil di bawah level Rp 18.000 per dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan hingga total 75 basis poin menjadi 5,50 persen.

Selain itu, tensi geopolitik global yang mulai mereda serta koordinasi pemerintah, regulator, dan pelaku pasar dalam menjaga stabilitas keuangan juga menjadi sentimen positif bagi pasar domestik.

Meski dana asing masih mencatatkan arus keluar, Kiwoom menilai kondisi tersebut tidak otomatis menutup peluang terbentuknya pemulihan pasar saham Indonesia. Secara historis, IHSG bahkan beberapa kali sudah lebih dulu menguat sebelum investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Load More