Bisnis / Makro
Jum'at, 12 Juni 2026 | 18:27 WIB
Menteri Perdagangan, Budi Susanto. [Suara.com/Achmad Fauzi].
Baca 10 detik
  • Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan Indonesia telah berupaya merundingkan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat selama 30 tahun terakhir.
  • Hubungan dagang kedua negara berlandaskan pada kerangka Trade and Investment Framework Agreement yang disepakati sejak Juli 1996.
  • Amerika Serikat menjadi pasar ekspor strategis yang memberikan surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia senilai 18,11 miliar dolar AS.

Suara.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso alias Busan mengungkapkan Indonesia telah berupaya menjalin perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat selama hampir 30 tahun.

Namun, hingga kini negosiasi tersebut belum pernah benar-benar mencapai kesepakatan final.

Menurut Busan, hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat sejatinya telah dibangun sejak 1996 melalui kerangka kerja sama Trade and Investment Framework Agreement (TIFA).

"Dan kita mau berunding dengan Amerika itu sejak Juli 1996, sudah 30 tahun. Kita berunding tidak pernah selesai," ujar Busan dalam acara Campuspreneur di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (12/6/2026).

Ilutrasi ekspor impor. [Suara.com/Alfian Winanto]

Ia menjelaskan, selama ini banyak pihak mempertanyakan mengapa pemerintah begitu serius menjalin komunikasi perdagangan dengan Amerika Serikat. Padahal, negara tersebut merupakan pasar ekspor yang sangat strategis bagi Indonesia.

"Kenapa kita harus mempunyai perjanjian dagang dengan Amerika? Ini kadang-kadang mungkin teman-teman ada yang belum tahu," ujarnya.

Budi mengatakan, Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar yang memberikan surplus perdagangan paling besar bagi Indonesia.

Tercatat, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai 30,9 miliar dolar AS. Dari angka tersebut, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 18,11 miliar dolar AS.

"Bapak/Ibu, ekspor kita ke Amerika itu jumlahnya 30,9 miliar US Dollar. Surplus kita itu 18,11 miliar US Dollar. Surplus terbesar kita ke dunia itu ya ke Amerika. Surplus kita nomor 1 itu ke Amerika," ucapnya.

Baca Juga: Mendag Dorong Mahasiswa Juga Jadi Aktivis Ekspor

Menurut Budi, besarnya surplus tersebut membuat pemerintah berkepentingan menjaga akses pasar Indonesia di Amerika Serikat.

"Jadi kita harus mengamankan tadi, Amerika," ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu tonggak hubungan perdagangan kedua negara adalah penandatanganan TIFA pada Juli 1996. Kerangka kerja itu menjadi dasar dialog ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

"Dulu Juli 1996 kita mempunyai apa yang namanya TIFA, Trade and Investment Framework Agreement," kata Budi.

Meski belum memiliki perjanjian perdagangan komprehensif seperti yang dimiliki Indonesia dengan sejumlah negara lain, ekspor nasional ke Amerika Serikat justru terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Padahal justru ekspor kita naik terus ke Amerika," pungkasnya.

Load More