- Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan Indonesia telah berupaya merundingkan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat selama 30 tahun terakhir.
- Hubungan dagang kedua negara berlandaskan pada kerangka Trade and Investment Framework Agreement yang disepakati sejak Juli 1996.
- Amerika Serikat menjadi pasar ekspor strategis yang memberikan surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia senilai 18,11 miliar dolar AS.
Suara.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso alias Busan mengungkapkan Indonesia telah berupaya menjalin perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat selama hampir 30 tahun.
Namun, hingga kini negosiasi tersebut belum pernah benar-benar mencapai kesepakatan final.
Menurut Busan, hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat sejatinya telah dibangun sejak 1996 melalui kerangka kerja sama Trade and Investment Framework Agreement (TIFA).
"Dan kita mau berunding dengan Amerika itu sejak Juli 1996, sudah 30 tahun. Kita berunding tidak pernah selesai," ujar Busan dalam acara Campuspreneur di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (12/6/2026).
Ia menjelaskan, selama ini banyak pihak mempertanyakan mengapa pemerintah begitu serius menjalin komunikasi perdagangan dengan Amerika Serikat. Padahal, negara tersebut merupakan pasar ekspor yang sangat strategis bagi Indonesia.
"Kenapa kita harus mempunyai perjanjian dagang dengan Amerika? Ini kadang-kadang mungkin teman-teman ada yang belum tahu," ujarnya.
Budi mengatakan, Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar yang memberikan surplus perdagangan paling besar bagi Indonesia.
Tercatat, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai 30,9 miliar dolar AS. Dari angka tersebut, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 18,11 miliar dolar AS.
"Bapak/Ibu, ekspor kita ke Amerika itu jumlahnya 30,9 miliar US Dollar. Surplus kita itu 18,11 miliar US Dollar. Surplus terbesar kita ke dunia itu ya ke Amerika. Surplus kita nomor 1 itu ke Amerika," ucapnya.
Baca Juga: Mendag Dorong Mahasiswa Juga Jadi Aktivis Ekspor
Menurut Budi, besarnya surplus tersebut membuat pemerintah berkepentingan menjaga akses pasar Indonesia di Amerika Serikat.
"Jadi kita harus mengamankan tadi, Amerika," ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu tonggak hubungan perdagangan kedua negara adalah penandatanganan TIFA pada Juli 1996. Kerangka kerja itu menjadi dasar dialog ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat.
"Dulu Juli 1996 kita mempunyai apa yang namanya TIFA, Trade and Investment Framework Agreement," kata Budi.
Meski belum memiliki perjanjian perdagangan komprehensif seperti yang dimiliki Indonesia dengan sejumlah negara lain, ekspor nasional ke Amerika Serikat justru terus meningkat dari tahun ke tahun.
"Padahal justru ekspor kita naik terus ke Amerika," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
KRL hingga Whoosh Jadi Andalan KAI Tekan Emisi Karbon
-
Jika Produksi Masih Kurang, ESDM Beri Kesempatan Perusahaan Tambang Revisi RKAB
-
Pemerintah Batal Naikkan Harga Minyakita
-
DJP Klaim Aturan Baru PPh Final Bikin UMKM Naik Kelas, Bukan Bebani Administrasi Pajak
-
BRI: Stabilitas Pasar Terjaga, Komitmen Jaga Kinerja dan Nilai Jangka Panjang Pemegang Saham
-
Purbaya Mau ke China & Inggris Minggu Depan demi Perkuat Nilai Tukar Rupiah
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Urus Ekspor RI Tahun Depan, Bagaimana Nasib Bea Cukai?
-
BRI Siapkan Buyback Saham hingga Rp500 Miliar, Tunjukkan Keyakinan pada Prospek Jangka Panjang
-
IHSG Tembus Level 6.000, DSSA dan BUMi Jadi Jagoan
-
Free Float Seret, FPNI Belum Kantongi Strategi Pasti Penuhi Ketentuan BEI