- Lingkar dalam Prabowo dinilai bikin arah kebijakan ekonomi tak pasti.
- Rupiah dan IHSG tertekan akibat turunnya kepercayaan investor asing.
- Investor menunggu sinyal stabilitas dan konsistensi kebijakan pemerintah.
Suara.com - Di tengah pelemahan rupiah dan arus keluar modal asing yang terus berlanjut, sorotan kini mengarah pada pola pengambilan keputusan di lingkar dalam Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin sulit diprediksi oleh pelaku pasar global.
Laporan Bloomberg yang mengutip lebih dari selusin sumber yang mengetahui dinamika internal pemerintahan menyebutkan bahwa keputusan strategis ekonomi kerap dipengaruhi oleh kelompok penasihat yang beragam, mulai dari orang-orang kepercayaan lama hingga konsultan asing. Kondisi tersebut disebut memunculkan masukan yang saling bertentangan dan membuat arah kebijakan ekonomi menjadi kurang konsisten di mata investor.
Ketidakpastian itu muncul di saat Indonesia tengah menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Rupiah sempat mendekati level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS, sementara investor asing ramai-ramai melepas aset Indonesia. Bahkan, pasar saham domestik menjadi salah satu yang berkinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini.
Pelaku pasar mengkhawatirkan sejumlah kebijakan populis pemerintah yang membutuhkan anggaran besar, termasuk program makan gratis dan berbagai intervensi negara dalam sektor strategis. Selain itu, muncul kekhawatiran mengenai independensi lembaga ekonomi serta meningkatnya peran negara dalam aktivitas bisnis yang selama ini lebih banyak digerakkan mekanisme pasar.
Meski demikian, tingkat popularitas Prabowo di dalam negeri masih tergolong tinggi. Namun tekanan ekonomi mulai terasa di masyarakat. Kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok memicu aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah yang menuntut pemerintah mengendalikan biaya hidup.
Untuk meredam gejolak pasar, pemerintah dan Bank Indonesia telah mengambil sejumlah langkah stabilisasi, mulai dari kenaikan suku bunga hingga penyesuaian kebijakan fiskal. Langkah tersebut sempat membantu mengangkat kembali rupiah dan pasar saham, namun banyak investor masih menunggu sinyal yang lebih kuat mengenai arah kebijakan ekonomi jangka panjang pemerintahan Prabowo.
Analis menilai tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan juga memulihkan kepercayaan investor. Sebab tanpa kepastian kebijakan dan tata kelola yang kuat, Indonesia berisiko kehilangan daya tariknya sebagai salah satu tujuan investasi utama di kawasan Asia Tenggara.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
Terkini
-
Biaya Medis Jebol Rp200 Juta, Ini Pentingnya Proteksi Sejak Dini
-
Investor Asing Antre Beli Saham EMAS, 50 Persen Jatah IPO Hong Kong Langsung Ludes
-
Tak Hanya Listrik, Limbah Panas Bumi Disulap Jadi Produk Bernilai Ekonomi
-
BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di Level 5,50 Persen, Apa Pertimbangannya?
-
Jelang Pengumuman MSCI, Simak Saham-saham yang Layak Dilirik Hari Ini
-
OJK Minta Investor Lakukan Ini Jelang Pengumuman Baru MSCI
-
DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China
-
Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?
-
B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman
-
Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor