Bisnis / Keuangan
Kamis, 18 Juni 2026 | 17:54 WIB
Gubernur Bank Indonesa Perry Warjiyo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (kanan), Deputi Gubernur Doni Primanto Joewono (kiri) menyampaikan paparan saat konferensi pers hasil rapat Dewan Gubernur di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (19/3/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/Spt/aa.
Baca 10 detik
  • BI naikkan suku bunga ke 5,75%, total naik 100 bps sejak April 2026.
  • Rupiah pulih ke Rp17.730 per dolar AS setelah sempat tembus Rp18.000.
  • Yield SBN naik, aliran dana asing berpotensi semakin deras masuk RI.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada Kamis (18/6/2026) demi menguatkan nilai tukar rupiah.

Keputusan tersebut menandai kenaikan suku bunga ketiga secara beruntun dalam dua bulan terakhir. Sejak April 2026, BI telah mengerek suku bunga hingga total 100 basis poin sebagai respons terhadap tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian nasional.

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai langkah tersebut mencerminkan komitmen kuat BI dalam mempertahankan stabilitas rupiah sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik.

Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan fokus utama kebijakan moneter saat ini masih tertuju pada penguatan mata uang Garuda yang sempat berada dalam tekanan hebat.

"Kenaikan suku bunga ini terutama bertujuan mendukung apresiasi rupiah dan menjaga stabilitas eksternal. Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, rupiah mulai menunjukkan pemulihan dan menguat ke sekitar Rp17.730 per dolar AS secara month to date," ujar Jessica.

Tak hanya soal kurs, BI juga mulai mewaspadai munculnya tekanan inflasi. Indikasinya terlihat dari kenaikan Wholesale Price Index (WPI) yang mencapai 5,76 persen secara tahunan pada Mei 2026. Sementara itu, inflasi inti di luar komponen emas juga meningkat menjadi 1,63 persen dari sebelumnya 1,36 persen pada April 2026.

Di sisi lain, kebijakan pengetatan moneter tersebut turut meningkatkan daya tarik instrumen keuangan Indonesia. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami kenaikan signifikan sepanjang tahun ini.

Data hingga 18 Juni 2026 menunjukkan yield SBN tenor 10 tahun telah naik sekitar 92 basis poin menjadi 7 persen. Bahkan yield tenor 2 tahun telah mencapai 7,08 persen. Kondisi ini dinilai menjadi magnet bagi investor asing untuk kembali menempatkan dananya di pasar keuangan Indonesia.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga menggelontorkan berbagai instrumen pendukung untuk memperkuat rupiah. Mulai dari pemberian diskon biaya hedging swap bagi investor asing hingga pembukaan kembali fasilitas lelang repo berbagai tenor.

Baca Juga: Kenaikan BI-Rate Belum Ampuh, Rupiah Tetap Loyo ke Level Rp17.794

Menurut Mirae Asset, kombinasi kebijakan tersebut menunjukkan strategi BI yang berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, kecukupan likuiditas, dan daya saing aset domestik.

Jessica menambahkan, tren penurunan cadangan devisa sejak awal tahun membuat instrumen suku bunga akan semakin penting dalam menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia.

"Karena itu, BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan terhadap rupiah kembali muncul," katanya.

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada pergerakan rupiah, arah kebijakan moneter global, serta perkembangan inflasi domestik. Selama ketidakpastian global masih tinggi, Bank Indonesia diperkirakan akan tetap menempatkan stabilitas rupiah sebagai prioritas utama kebijakan moneternya.

Load More