Bisnis / Keuangan
Senin, 29 Juni 2026 | 08:56 WIB
Ilustrasi PHK. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • OJK mengimbau bank mewaspadai penurunan daya beli dan ancaman PHK akibat volatilitas ekonomi global serta domestik saat ini.
  • Penurunan daya beli berpotensi meningkatkan risiko kredit pada segmen UMKM dan konsumsi yang sensitif terhadap perubahan ekonomi.
  • OJK melakukan pengawasan ketat dan uji ketahanan berkala guna memastikan permodalan serta likuiditas bank tetap terjaga stabil.

"Dalam kondisi tersebut, bank juga cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit sehingga dapat memengaruhi dinamika pertumbuhan kredit ke depan," jelasnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. [Suara.com/Rina Anggraeni]

Selain itu, Capital Adequacy Ratio (CAR) industri perbankan tercatat sebesar 23,97 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki bantalan modal yang kuat untuk menyerap berbagai potensi risiko yang mungkin muncul.

Di tengah gejolak pasar keuangan, kualitas kredit perbankan juga tetap terjaga. Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,17 persen dan Loan at Risk (LaR) sebesar 8,82 persen.

OJK menilai, belum terdapat peningkatan signifikan rasio NPL pada sektor-sektor produktif yang menjadi penopang utama penyaluran kredit perbankan.

Untuk menjaga stabilitas sektor keuangan, OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

"OJK senantiasa secara aktif berkoordinasi dengan Pemerintah serta pemangku kepentingan terkait, termasuk yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), guna memperkuat bauran kebijakan, monitoring, dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan secara sehat dan berkelanjutan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan," tutur Dian.

Melalui penguatan koordinasi, pengawasan, serta pelaksanaan stress test secara berkala, OJK optimistis industri perbankan Indonesia tetap memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi global.

Stabilitas sistem keuangan, likuiditas perbankan, serta kualitas kredit diharapkan tetap terjaga sehingga mampu mendukung pertumbuhan kredit dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Baca Juga: Negara BIsa Kehilangan Triliunan Penerimaan Negara dari Industri Rokok

Load More