- OJK mengimbau bank mewaspadai penurunan daya beli dan ancaman PHK akibat volatilitas ekonomi global serta domestik saat ini.
- Penurunan daya beli berpotensi meningkatkan risiko kredit pada segmen UMKM dan konsumsi yang sensitif terhadap perubahan ekonomi.
- OJK melakukan pengawasan ketat dan uji ketahanan berkala guna memastikan permodalan serta likuiditas bank tetap terjaga stabil.
"Dalam kondisi tersebut, bank juga cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit sehingga dapat memengaruhi dinamika pertumbuhan kredit ke depan," jelasnya.
Selain itu, Capital Adequacy Ratio (CAR) industri perbankan tercatat sebesar 23,97 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki bantalan modal yang kuat untuk menyerap berbagai potensi risiko yang mungkin muncul.
Di tengah gejolak pasar keuangan, kualitas kredit perbankan juga tetap terjaga. Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,17 persen dan Loan at Risk (LaR) sebesar 8,82 persen.
OJK menilai, belum terdapat peningkatan signifikan rasio NPL pada sektor-sektor produktif yang menjadi penopang utama penyaluran kredit perbankan.
Untuk menjaga stabilitas sektor keuangan, OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
"OJK senantiasa secara aktif berkoordinasi dengan Pemerintah serta pemangku kepentingan terkait, termasuk yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), guna memperkuat bauran kebijakan, monitoring, dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan secara sehat dan berkelanjutan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan," tutur Dian.
Melalui penguatan koordinasi, pengawasan, serta pelaksanaan stress test secara berkala, OJK optimistis industri perbankan Indonesia tetap memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Stabilitas sistem keuangan, likuiditas perbankan, serta kualitas kredit diharapkan tetap terjaga sehingga mampu mendukung pertumbuhan kredit dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Baca Juga: Negara BIsa Kehilangan Triliunan Penerimaan Negara dari Industri Rokok
Tag
Berita Terkait
-
Tak Cuma Pegadaian, Kini Masyarakat Punya Pilihan Baru untuk Gadai Barang
-
Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja
-
Ancaman PHK Meningkat, Pendaftaran Program Indonesia Pintar Ikut Melonjak
-
OJK Respons Kritik MSCI, Pasar Modal RI Dinilai Tetap Kompetitif
-
Tak Lagi Bebas, OJK Batasi Kepemilikan Asing dan Atur Ulang Bisnis BNPL
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Pasar Logistik ASEAN Tembus Rp6.958 Triliun, Indonesia Punya Peluang Emas Jadi Pemimpin
-
Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.865 per Dolar AS, BI Disebut Lakukan Intervensi
-
Sinyal untuk Beli, Harga Emas Antam Terus Turun Jadi Rp2.645.000/Gram
-
IHSG Menguat saat Bursa Global Mayoritas di Zona Merah, Rupiah Naik Tipis
-
Setelah Dibuka Menguat IHSG Langsung Anjlok di Senin Pagi, BBCA Mulai Diborong Asing
-
Konflik AS - Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Naik ke Level 72 Dolar AS
-
Update Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini
-
Kenaikan Cukai Rokok Dinilai Bisa Pangkas Ribuan Lapangan Kerja, Ini Kata Said Iqbal
-
Pertamina Raih Cuan Banyak dari Investasi EBT di Filipina
-
Negara BIsa Kehilangan Triliunan Penerimaan Negara dari Industri Rokok