Bisnis / Makro
Selasa, 30 Juni 2026 | 19:37 WIB
Capaian Indeks Kepercayaan Industri atau IKI melambat dibandingkan bulan Mei 2026 akibat tekanan biaya produksi bahan baku serta penurunan permintaan pasar domestik. [Antara]
Baca 10 detik
  • Kemenperin melaporkan Indeks Kepercayaan Industri Juni 2026 mencapai level 52,90 yang menunjukkan sektor tersebut masih berada dalam zona ekspansi.
  • Capaian IKI melambat dibandingkan bulan Mei 2026 akibat tekanan biaya produksi bahan baku serta penurunan permintaan pasar domestik.
  • Sebanyak 22 dari 23 subsektor industri pengolahan tetap ekspansif meskipun pelaku industri mulai merespons kenaikan BI Rate sebesar 5,75 persen.

Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juni 2026 berada di level 52,90 atau masih berada di zona ekspansi. Namun, capaian tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya akibat tekanan yang dihadapi industri dari sisi produksi maupun permintaan.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, pada Juni ini industri menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan Mei 2026. Selain kenaikan biaya produksi, pelaku industri juga mulai merasakan tekanan dari sisi permintaan.

"Pada bulan Juni 2026 ini, industri menghadapi tantangan lebih banyak dan lebih berat dibandingkan dengan bulan Mei 2026. Pada bulan Juni ini, tantangan tidak hanya pada sisi produksi, tapi juga pada sisi permintaan," kata Febri di Gedung Kemenperin, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Menurut dia, dari sisi produksi industri menghadapi kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah, pemadaman listrik di sejumlah kawasan industri, serta kenaikan harga gas industri, khususnya gas hasil regasifikasi LNG.

Di sisi lain, industri juga mulai melihat adanya tekanan terhadap permintaan domestik.

"Pada bulan Juni ini, kami mencermati bahwa ada kenaikan harga barang-barang yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Namun kenaikan harga barang-barang masih dalam rentang, menurut perkiraan kami, masih dalam rentang kendali inflasi 2,5 plus minus 1. Dan kemudian kami juga mencatat bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi juga ikut menggerus daya beli masyarakat," ungkapnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Febri mengatakan sektor manufaktur masih mampu bertahan karena ditopang permintaan domestik yang cukup besar.

"Maka, nilai IKI pada bulan Juni 2026 adalah sebesar 52,90. Masih ekspansi di atas 50, meski melambat 0,66 poin dibandingkan dengan bulan Mei 2026 yang sebesar 53,56. Sebaliknya, nilai IKI naik 1,06 poin dibandingkan nilai IKI bulan Juni tahun yang lalu, sebesar 51,84," kata dia.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 22 subsektor masih berada pada fase ekspansi dan hanya satu subsektor yang mengalami kontraksi. Subsektor yang tetap ekspansi tersebut memiliki kontribusi sebesar 98,6 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan I 2026.

Baca Juga: Indeks Kepercayaan Industri Anjlok di Februari, Tapi Masih di Zona Ekspansi

Febri menambahkan, optimisme pelaku industri untuk enam bulan ke depan masih mendominasi, meski sedikit melambat. Sebanyak 68,6 persen responden masih optimistis terhadap prospek usahanya, sedangkan tingkat pesimisme naik menjadi 8,4 persen.

Ia menilai kenaikan pesimisme tersebut merupakan respons pelaku industri terhadap kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen.

"Kami menilai bahwa naiknya tingkat pesimisme sebesar 1 persen dari 7,4 persen Mei 2026 sampai Juni 2026 adalah bentuk respons industri terhadap kenaikan BI Rate. Meskipun sampai saat ini kenaikan BI Rate belum dirasakan oleh industri, tapi untuk beberapa bulan ke depan respons industri adalah seperti ini. Dan menurut kami ini adalah sesuatu yang wajar," pungkas Febri.

Load More