- Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menyatakan penguatan rupiah bergantung pada peningkatan aliran modal asing ke obligasi Indonesia.
- Pasar obligasi perlu menawarkan imbal hasil menarik agar investor asing kembali masuk guna memperkuat nilai tukar rupiah.
- Koordinasi konsisten antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mencapai stabilisasi ekonomi.
Suara.com - Nilai tukar rupiah bisa kembali menguat jika ada peningkatan aliran masuk (inflow) modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) sehingga memperkuat keseimbangan di pasar valuta asing, demikian disampaikan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian.
“Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow yang lebih besar,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Guna menghasilkan arus masuk modal yang berkelanjutan, Fakhrul memandang bahwa pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko global yang masih tinggi.
“Investor asing memang mulai kembali membeli obligasi Indonesia, namun menurut saya proses tersebut masih berada pada tahap awal,” imbuh dia.
Fakhrul menilai, pelemahan rupiah yang masih terjadi saat ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses penyesuaian pasar keuangan, bukan sebagai cerminan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.
Menurutnya, Indonesia saat ini telah memasuki fase stabilisasi setelah berbagai penyesuaian kebijakan moneter dan pengelolaan likuiditas yang dilakukan Bank Indonesia (BI).
Ia juga menjelaskan bahwa proses stabilisasi nilai tukar tidak terjadi secara instan. Dalam kondisi saat ini, pasar obligasi menjadi faktor yang paling menentukan arah rupiah karena merupakan pintu masuk utama bagi aliran modal portofolio asing.
Fakhrul menilai, langkah BI dalam memperketat pengelolaan likuiditas merupakan fondasi yang tepat. Namun, keberhasilan proses stabilisasi tersebut juga memerlukan konsistensi kebijakan fiskal dan pengelolaan surat utang pemerintah agar proses normalisasi pasar obligasi dapat berlangsung secara optimal.
Menurutnya, koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan menjadi sangat penting pada fase ini. Kedua institusi perlu memberikan ruang bagi terbentuknya tingkat imbal hasil obligasi yang mencerminkan kondisi pasar sehingga Indonesia kembali memiliki daya saing dibandingkan negara-negara emerging markets lainnya.
Baca Juga: Rupiah Berotot Sore Ini ke Level Rp17.922/USD
Fakhrul juga memandang bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan intervensi tambahan, melainkan konsistensi kebijakan.
“Ketika pasar melihat bahwa proses normalisasi benar-benar dijalankan secara konsisten oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, kepercayaan investor akan meningkat, capital inflow akan semakin besar, dan rupiah akan memperoleh fondasi yang jauh lebih kuat,” imbuh dia.
Selama proses tersebut berlangsung, menurut Fakhrul, volatilitas nilai tukar masih akan dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama ekspektasi terhadap kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.
Namun dari sisi domestik, catat dia, fondasi stabilisasi mulai terbentuk dan downside rupiah dinilai semakin terbatas dibandingkan beberapa bulan lalu.
Oleh sebab itu, menurutnya, tantangan berikutnya bukan lagi menghentikan tekanan terhadap rupiah, tetapi membangun keyakinan investor bahwa proses normalisasi pasar obligasi akan dijalankan secara konsisten hingga Indonesia kembali menjadi salah satu tujuan utama investasi portofolio di kawasan.
“Ketika capital inflow kembali menguat, rupiah akan memperoleh dukungan yang jauh lebih kokoh dan proses stabilisasi akan semakin berkelanjutan,” kata Fakhrul.
Berita Terkait
-
Investor Terus Kabur dan Devisa Menipis Bikin Rupiah Semakin Melemah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Cek Harga Dolar AS di Bank Himbara dan Swasta, Ada yang Jual Rp18.050
-
Awal Bulan Juli, Rupiah Tertekan Lawan Dolar AS ke Level Rp17.980
-
Rupiah Terpuruk! Kembali Dekati Level 18.000 per Dolar AS.
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Purbaya Akan Tambah Perusahaan Pemungut Pajak Toko Online di Ecommerce
-
DPR Siap Cecar Tiktok yang Dituding Tahan Duit UMKM hingga Triliunan Rupiah
-
Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Tak Untungkan Mitra Pengemudi
-
Minyak Dunia Anjok, Mengapa Harga Pertamax Tak Ikut Turun?
-
Kapal Tanker Pertamina Berhasil Lolos dari Selat Hormuz, Sisanya Menunggu Aman
-
Bukan Pemain, Manchester United Mau Beli Kredit Karbon Indonesia
-
Antrean BBM Surabaya-Gresik Mulai Terurai, BPH Migas dan Pertamina Perkuat Distribusi
-
Stok Batu Bara Normal, Bos PLN Janji Tak Ada Mati Lampu
-
RI Mulai Dagang Karbon Kehutanan, Potensinya Rp5 Triliun
-
Pemerintah Resmi Luncurkan SRUK 9 Juli, Era Baru Perdagangan Karbon Dimulai