Bisnis / Energi
Jum'at, 03 Juli 2026 | 06:42 WIB
Pertamina Marine Engineering
Baca 10 detik
  • PT Pertamina Marine Engineering menyelenggarakan RUPST di Jakarta untuk mengesahkan laporan keuangan serta kinerja perusahaan tahun buku 2025.
  • PME mencatatkan laba bersih Rp13,32 miliar dengan predikat perusahaan sehat serta mencapai target operasional di berbagai sektor bisnis.
  • Pemegang saham mengarahkan manajemen PME untuk memperkuat tata kelola serta melakukan ekspansi bisnis secara terukur dan berkelanjutan.

Suara.com - PT Pertamina Marine Engineering (PME) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025.

Pertemuan yang berlangsung di Kantor PME, Tanjung Priok, Jakarta Utara ini berfokus pada pelaporan kinerja keuangan, operasional, serta pembahasan agenda strategis perusahaan.

Rapat tersebut dipimpin oleh Direktur PME Heri Santika Permana, serta dihadiri oleh perwakilan pemegang saham mayoritas dari PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) yang diwakili oleh Direktur Armada Dewi Susanti, dan pemegang saham minoritas dari PT Pertamina Energy Terminal (PET) yang diwakili oleh Direktur Utama Bayu Prostiyono.

Dalam RUPST ini, para pemegang saham menyetujui Laporan Tahunan dan mengesahkan Laporan Keuangan PME Tahun Buku 2025.

Selain itu, rapat menetapkan beberapa keputusan penting seperti alokasi penggunaan laba bersih, penunjukan Kantor Akuntan Publik untuk Tahun Buku 2026, serta struktur remunerasi bagi jajaran Direksi dan Dewan Komisaris.

Berdasarkan laporan perusahaan, PME membukukan laba bersih sebesar Rp 13,32 miliar, EBITDA Rp 33,98 miliar, dan total aset senilai Rp 441,08 miliar pada tahun buku 2025.

Laporan keuangan tersebut mendapatkan opini audit “Wajar Dalam Semua Hal yang Material”. Dari indikator kesehatan perusahaan, PME meraih skor 78,26 atau masuk dalam kategori Sehat (A).

Direktur PME, Heri Santika Permana, memaparkan bahwa sepanjang 2025 perusahaan fokus pada penguatan operasional dan mitigasi risiko keselamatan kerja.

“Dari aspek HSSE, PME mencatatkan zero accident, 1,18 juta safe man-hours, serta nilai LTIR dan TRIR nihil sepanjang tahun 2025,” jelas Heri.

Baca Juga: KPK Panggil Mantan Direksi PT Pelabuhan Penajam soal PPT ET

Di sektor operasional, segmen Underwater Services merealisasikan 59 proyek atau setara dengan 268,75% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Capaian di segmen Waste Management dan Dockyard juga dilaporkan melampaui target berkala. Guna menunjang kapasitas operasional ke depan, perusahaan telah merealisasikan belanja modal berupa pengadaan Launch Arm Recovery System (LARS) serta Underwater Drone.

Respon dan Arahan Pemegang Saham

Merespon paparan tersebut, Direktur Armada PT Pertamina Trans Kontinental, Dewi Susanti, menyampaikan catatan terkait aspek operasional dan keselamatan.

Untuk rencana jangka panjang, pemegang saham meminta manajemen PME untuk memperketat tata kelola dan bertindak terukur dalam melihat peluang pasar.

"Ke depan, PME diharapkan terus memperkuat tata kelola perusahaan, mengoptimalkan investasi, dan menangkap peluang bisnis secara lebih agresif namun tetap terukur,” kata Dewi.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PT Pertamina Energy Terminal, Bayu Prostiyono, mengingatkan pentingnya basis kajian yang matang dalam setiap rencana ekspansi. Ia menekankan perlunya analisis risiko yang kuat, proyeksi profitabilitas yang realistis, serta implementasi Good Corporate Governance (GCG) yang konsisten.

Menutup rangkaian RUPST, manajemen PME menyatakan akan menjadikan arahan serta evaluasi pemegang saham sebagai acuan kerja untuk memperkuat operasional dan pengembangan kompetensi internal dalam melayani kebutuhan Pertamina Group maupun pasar eksternal.

Load More