- Pemerintah mencatat realisasi investasi di Kawasan Ekonomi Khusus mencapai Rp353,3 triliun hingga triwulan pertama tahun 2026.
- Capaian investasi tersebut berhasil menyerap sebanyak 266 ribu tenaga kerja di seluruh Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia.
- Tingginya minat investor industri manufaktur memicu rencana perluasan kawasan dengan potensi investasi hingga Rp846 triliun ke depan.
Suara.com - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan kalau realisasi investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tembus Rp 353,3 triliun hingga triwulan pertama 2026.
Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso menjelaskan kalau investasi KEK juga berhasil menjaring 266 ribu tenaga kerja.
"Jadi hari ini investasi secara akumulatif itu sudah kira-kira Rp 353,3 triliun, tenaga kerjanya kira-kira 266 ribu," katanya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Susiwijono mengklaim kalau capaian ini membuktikan bahwa indikator ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Namun ia tak menampik adanya masalah kepercayaan investor terhadap investasi di Indonesia.
"Nah kami meyakinkan bahwa di KEK, hampir semuanya, khususnya yang berbasis industri manufaktur, investasi terjadi peningkatan yang luar biasa," lanjutnya.
Peningkatan investasi ini juga terbukti dengan banyaknya pengajuan perluasan lahan dan pengembangan kawasan di KEK dengan rata-rata dua kali lipat dari yang sudah ada. Ia mengaku kalau beberapa KEK sudah diisi penuh ole investor.
Walhasil beberapa investor yang mengajukan investasi masih tertahan. Kemenko Perekonomian akan menindaklanjuti permintaan perluasan lahan KEK.
"Sehingga itu membuktikan bahwa untuk investasi yang betul-betul real investasi di industri manufaktur masih sangat menjanjikan di Indonesia," imbuhnya.
Bahkan Susiwijono mengklaim kalau perluasan wilayah KEK bisa menimbulkan potensi investasi hingga Rp 846 triliun dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: BBCA Diborong, BMRI Dilepas Asing Saat IHSG Ditutup Menguat
"Iklim investasi di Indonesia masih sangat kondusif dan masih sangat menarik bagi investasi secara langsung, foreign direct investment, khususnya di industri manufaktur," jelasnya.
Tag
Berita Terkait
-
BBCA Diborong, BMRI Dilepas Asing Saat IHSG Ditutup Menguat
-
Unilever Global Mau Investasi ke RI Bulan Depan, Proyek Diresmikan di Sumatra Utara
-
Investor Asing Serok BBCA, Tapi Jual Besar-Besaran BUMI di Sesi I
-
Ekonom: Investor Butuh Kepastian Hukum di Indonesia, Bukan Sekedar Insentif!
-
IHSG Loyo, Asing Masih Catat Jual Bersih Rp74,42 Triliun Sepanjang 2026
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
OJK Mulai Kewalahan Hadapi Modus Penipuan Berkedok AI dan Deepfake
-
BBCA Diborong, BMRI Dilepas Asing Saat IHSG Ditutup Menguat
-
OJK Pangkas Pembaruan Status SLIK, Akses KPR dan Kredit UMKM Dipercepat
-
Kerugian Tembus Rp9,3 Triliun, OJK Ungkap Fakta Mengejutkan dari 'Love Scam'
-
Unilever Global Mau Investasi ke RI Bulan Depan, Proyek Diresmikan di Sumatra Utara
-
BTN Borong Lima Penghargaan Internasional, Transformasi Beyond Mortgage Makin Diakui
-
Di Bawah Danantara, PNM Buka Pekerjaan Puluhan Ribu Lulusan SMA/SMK dari Keluarga Prasejahtera
-
Perombakan di Manajemen Danantara, Pahala Mansury Jadi Managing Director
-
Rupiah Terkapar Lemah Hari Ini, Sempat ke Level Rp18.000
-
Omnichannel Jadi Solusi Menjawab Perubahan Perilaku Konsumen