Bisnis / Keuangan
Jum'at, 10 Juli 2026 | 13:04 WIB
Pramuniaga menunjukkan emas batangan di sebuah gerai Galeri 24, Jakarta, Jumat (9/1/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Harga emas tertekan akibat dolar AS menguat dan sikap hawkish The Fed.
  • Rasio emas membantu menilai aset lebih objektif tanpa distorsi inflasi.
  • Rasio emas, perak, saham, dan minyak jadi acuan membaca peluang pasar.

Suara.com - Gejolak pasar global membuat pergerakan harga emas kembali menjadi sorotan. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi (all time high/ATH) di level US$5.626 per ounce pada Januari 2026, harga emas terkoreksi tajam hingga sempat turun ke bawah US$4.000 per ounce pada 24 Juni lalu.

Koreksi tersebut terjadi di tengah sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), yang mendorong penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam satu tahun. Kondisi ini memperbesar tekanan terhadap harga emas meski logam mulia tersebut masih dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) utama.

Analis Pasar Keuangan broker Elev8, Kar Yong Ang, mengatakan pergerakan emas dalam jangka menengah hingga panjang masih sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter AS dan kekuatan dolar.

"Dalam jangka menengah hingga panjang, harga emas sebagian besar didorong oleh kebijakan moneter, dengan Federal Reserve dan kekuatan dolar AS tetap menjadi faktor dominan," ujar Kar Yong Ang.

Menurut dia, di tengah ketidakpastian geopolitik, inflasi yang masih tinggi, hingga ekspansi moneter global, investor sebaiknya tidak hanya melihat harga emas secara nominal. Salah satu indikator yang dinilai lebih relevan adalah rasio emas.

Gejolak pasar global membuat pergerakan harga emas kembali menjadi sorotan. Foto Elev8

Rasio dalam dunia keuangan merupakan perbandingan harga antara dua aset. Melalui metode ini, investor dapat mengetahui apakah suatu aset relatif lebih murah atau lebih mahal dibandingkan aset lainnya tanpa dipengaruhi fluktuasi mata uang maupun inflasi.

Kar Yong Ang menjelaskan, pendekatan tersebut mampu mengurangi "noise" akibat kebijakan bank sentral maupun pergerakan nilai tukar.

"Dalam trading, rasio membantu mengidentifikasi tren, divergensi, dan peluang mean-reversion. Saat diperdagangkan melalui CFD, rasio juga membuka peluang strategi arbitrase statistik karena trader dapat membeli maupun menjual tanpa harus memiliki aset fisiknya," jelasnya.

Salah satu rasio yang paling banyak digunakan pelaku pasar adalah rasio emas terhadap perak (Gold-Silver Ratio/GSR). Rasio ini menunjukkan berapa banyak ounce perak yang diperlukan untuk membeli satu ounce emas.

Baca Juga: Berapa Harga 1 Kg Emas Batangan? Segini Nilainya Per 10 Juli 2026

Meski sama-sama logam mulia, karakteristik keduanya berbeda. Emas lebih banyak berfungsi sebagai aset moneter dan cadangan bank sentral, sedangkan perak memiliki ketergantungan tinggi terhadap aktivitas industri.

Ketika rasio emas terhadap perak melonjak jauh di atas rata-rata historisnya, kondisi tersebut mengindikasikan perak relatif lebih murah dibandingkan emas. Situasi seperti itu kerap dimanfaatkan trader dengan membeli perak dan menjual emas, sembari menunggu rasio kembali ke level normal.

Selain itu, investor juga dapat mencermati rasio emas terhadap indeks saham. Rasio ini digunakan untuk melihat apakah valuasi pasar saham sudah terlalu mahal dibandingkan aset riil.

Secara historis, puncak rasio tersebut beberapa kali terjadi menjelang fase pelemahan panjang pasar saham, seperti pada akhir 1920-an, pertengahan 1960-an, hingga awal 2000-an.

Sementara itu, rasio emas terhadap minyak menjadi indikator penting untuk membaca kondisi ekonomi global. Penurunan tajam rasio tersebut dalam sejarah beberapa kali mendahului perlambatan ekonomi hingga resesi karena kenaikan harga minyak yang membebani konsumsi dan investasi.

Gejolak pasar global membuat pergerakan harga emas kembali menjadi sorotan. Foto Elev8

Meski dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai valuasi aset, Kar Yong Ang mengingatkan rasio emas bukanlah indikator tunggal dalam mengambil keputusan investasi.

Investor tetap perlu mengombinasikan analisis rasio dengan analisis teknikal maupun fundamental agar keputusan investasi lebih akurat.

"Rasio emas mendorong pendekatan trading yang lebih disiplin dan berbasis data, bukan sekadar reaksi emosional terhadap gejolak pasar," tutupnya.

Load More