- Freeport hanya mampu beroperasi 65% sepanjang 2026 akibat dampak longsor.
- Smelter Gresik berhenti sejak Desember 2025 karena kekurangan konsentrat.
- Produksi penuh Freeport baru ditargetkan kembali pada akhir 2027.
Suara.com - Pemulihan operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) ternyata berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan. Hingga sepanjang 2026, kapasitas produksi tambang bawah tanah perusahaan itu diproyeksikan hanya mencapai sekitar 65 persen dari kapasitas normal, memperpanjang dampak gangguan akibat longsor yang terjadi di area Grasberg Block Cave pada September 2025.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa salah satu produsen tembaga terbesar di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memulihkan kinerja produksi. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor hulu, tetapi juga merembet ke aktivitas hilir, termasuk operasional smelter baru di Gresik.
Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, saat ini operasi tambang masih dibatasi sekitar 60 persen karena perusahaan memprioritaskan aspek keselamatan pasca-insiden longsor.
"Tahun ini kita PTFI masih hanya dalam kapasitas 60 persen dari hulunya, karena memang akibat dari longsoran yang terjadi di bulan September (2025). Kami melakukan perbaikan-perbaikan untuk meyakinkan bahwa ini semuanya betul-betul aman, sehingga produksi ramp-up-nya berjalan tidak secepat perkiraan sebelumnya. Tahun ini masih akan mencapai 65 persen dari total kapasitas," ujar Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Lambatnya pemulihan tersebut membuat target kembali ke produksi normal masih harus menunggu cukup lama. Freeport baru menargetkan kapasitas produksi meningkat menjadi sekitar 75 persen pada semester I 2027, sementara operasi penuh 100 persen baru diperkirakan tercapai menjelang akhir 2027.
Tersendatnya produksi tambang juga berdampak langsung terhadap pasokan konsentrat yang menjadi bahan baku smelter baru PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Kekurangan pasokan menyebabkan fasilitas pemurnian tersebut berhenti beroperasi sejak Desember 2025 setelah stok konsentrat di gudang habis.
Terhentinya operasional smelter selama berbulan-bulan menunjukkan besarnya efek domino dari gangguan produksi di tambang Papua. Padahal, smelter tersebut merupakan salah satu proyek strategis nasional yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.
Tony mengatakan, penghentian sementara operasional dimanfaatkan perusahaan untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan fasilitas.
"Kita mampu manfaatkan untuk melakukan pemeliharaan-pemeliharaan dan perbaikan-perbaikan," ujarnya.
Baca Juga: Negara Kaya Bahan Tambang Tapi Rakyat Tetap Bayar Pajak Tinggi: Salah Siapa?
Menurut rencana, smelter Gresik baru akan kembali menerima pasokan konsentrat dari Papua pada September 2026 sebelum secara bertahap meningkatkan kapasitas produksinya hingga akhir tahun.
Sementara menunggu pasokan kembali normal, pengolahan konsentrat Freeport masih bergantung pada PT Smelting yang saat ini menangani hampir separuh produksi konsentrat asal Papua.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Pemerintah Sebut Jadi Sinyal Positif bagi Ekonomi
-
Investor Asing Kabur Lagi Rp501 Miliar di Sesi I, BUMI Jadi Sasaran
-
Rupiah Bergejolak, Pemerintah Bakal Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal
-
IHSG Bertahan di Level 6.000 hingga Sesi I, WIFI dan ENRG Jadi Bintang
-
Harga Emas Antam Logam Mulia Terbaru 14 Juli 2026: dari 0,5 Gram hingga 1.000 Gram
-
Komoditas Sawit Indonesia Bergantung pada CPO Mentah, Pengamat: Risiko Besar
-
PNM dan Danantara Perluas Pelayanan hingga 516 Jaringan di Wilayah 3T
-
Pertamina Impor LPG Setara 15,2 Juta Tabung 3 KG dari Texas
-
Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
-
BRI Raih Predikat Kontributor Pajak Terbesar di Sektor Keuangan, Bersinergi dengan Danantara