Bisnis / Makro
Selasa, 14 Juli 2026 | 12:09 WIB
Sejumlah pekerja mengangkat buah kelapa sawit di Kabupaten Siak, Selasa (26/5/2026). [Ist]
Baca 10 detik
  • Para pakar ekonomi mendesak Indonesia memperkuat hilirisasi produk kelapa sawit guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing global.
  • Industri sawit wajib mengadopsi standar keberlanjutan, inovasi teknologi, serta sistem ketertelusuran digital untuk memenuhi regulasi pasar internasional yang ketat.
  • Ekspor produk turunan sawit pada 2025 memberikan kontribusi surplus neraca perdagangan signifikan mencapai 43,23 miliar dolar Amerika Serikat.

Suara.com - Kebijakan ekspor produk turunan kelapa sawit Indonesia dinilai perlu berubah demi menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

Para pakar ekonomi mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa lagi sekadar bertumpu pada statusnya sebagai produsen terbesar di dunia. Ke depan, keunggulan kompetitif di pasar internasional akan sangat bergantung pada kemampuan industri domestik dalam mengadopsi inovasi serta memenuhi regulasi global yang kian ketat terkait isu lingkungan.

Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Isnawati Hidayah, menjelaskan bahwa parameter daya saing ekspor kini telah bergeser.

Pasar global saat ini menuntut pemenuhan standar ketertelusuran (traceability), aspek keberlanjutan, serta operasional yang rendah emisi karbon.

"Indonesia perlu bergerak dari ekspor produk antara menuju produk hilir yang memiliki nilai tambah dan kandungan teknologi lebih tinggi sehingga tidak terus bergantung pada fluktuasi harga komoditas primer," kata Isnawati kepada ANTARA di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Isnawati menambahkan, esensi dari program hilirisasi bukan sekadar memperbanyak varian produk, melainkan meningkatkan standar kualitasnya.

Pemerintah diharapkan mampu menstimulus investasi pada sektor industri hilir yang berbasis riset dan teknologi. Selain itu, keterlibatan petani swadaya dalam rantai pasok dinilai krusial agar nilai ekonomi hilirisasi dapat terdistribusi secara merata.

Dari sisi hulu, peningkatan kapasitas produksi harus mengoptimalkan lahan yang telah ada demi menekan risiko deforestasi yang berpotensi merusak citra komoditas sawit Indonesia di masa depan.

Pandangan serupa disampaikan oleh Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti.

Baca Juga: Purbaya Sentil BPKP soal Audit 10 Perusahaan Sawit Diduga Manipulasi Ekspor CPO

Ia menekankan perlunya diferensiasi produk agar komoditas yang diekspor tidak lagi didominasi oleh crude palm oil (CPO) mentah.

Menurutnya, hal yang paling krusial adalah membangun ekosistem pendukung untuk mengolah sawit menjadi barang dengan nilai ekonomi tinggi seperti oleokimia, bahan kosmetik, pelumas, deterjen, sabun, hingga biodiesel.

Pelaku usaha juga dituntut jeli melihat karakteristik pasar tujuan. Wilayah seperti Eropa menerapkan aturan keberlanjutan yang sangat ketat, sementara kawasan seperti India dan Pakistan masih menawarkan potensi pasar yang sangat besar bagi produk sawit Indonesia.

Guna memperluas penetrasi pasar, Esther menyarankan optimalisasi forum business-to-business (B2B) dan partisipasi aktif dalam ekshibisi dagang berskala internasional.

Langkah penguatan di sektor hulu hingga hilir ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus membenahi tata kelola industri, salah satunya melalui perluasan implementasi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, performa ekspor minyak sawit dan produk turunannya pada tahun 2025 berhasil mencatatkan kinerja impresif.

Load More