Bisnis / Energi
Jum'at, 17 Juli 2026 | 15:01 WIB
BBM solar langka di Padangsidimpuan. [Dok.Antara]
Baca 10 detik
  • PT Pertamina Patra Niaga menggandeng TNI dan Polri untuk mengamankan distribusi BBM bersubsidi di wilayah Sumatera sejak Juli 2026.
  • Langkah tersebut diambil untuk mengatasi kelangkaan dan antrean panjang akibat lonjakan konsumsi masyarakat terhadap BBM bersubsidi secara tiba-tiba.
  • Kondisi distribusi BBM di SPBU Sumatera dilaporkan telah kembali normal setelah penambahan armada dan pengawalan keamanan ketat dilakukan.

Suara.com - PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menggandeng TNI dan Polri guna memastikan kelancaran distribusi BBM bersubsidi di sejumlah wilayah di Sumatera.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, kelangkaan BBM terjadi di sejumlah SPBU seperti di Medan dan Palembang hingga mengakibatkan antrian panjang.

Wakil Direktur Utama PPN, Taufik Aditiyawarman, mengklaim sejak Kamis (16/7) pagi kemarin situasi di SPBU di Sumatera sudah kembali normal.

"Karena kami dua hari terakhir kita tambah armada dan juga tambah driver-nya ataupun awak mobil tangkinya" ujar Taufik saat konferensi pers di Kompleks Parlemen yang dikutip pada Jumat (17/7/2026).

Bersamaan dengan itu, PPN turut melibatkan anggota TNI dan Polri yang bertujuan memastikan BBM tiba di SPBU.

"Nah, memang ada juga kami dibantu dengan tenaga keamanan TNI-Polri adalah untuk memastikan pengamanan distribusi BBM itu sampai di tujuan yang di SPBU yang dimaksud," kata Taufik.

Antrean truk mengisi BBM solar Subsidi. [KlikKaltim.com]

Adapun kelangkaan, khusus BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar disebut PPN karena adanya perubahan pola konsumsi. Kenaikan harga BBM non subsidi sejak 10 Juni lalu, membuat masyarakat beralih ke BBM bersubsidi.

Berdasarkan data yang dipaparkan PPN, penyaluran harian Pertalite (BBM subsidi) melonjak 9,4 persen atau naik 7.129 kiloliter (KL)/hari, sedangkan konsumsi Pertamax Series (BBM non subsidi) justru anjlok hingga 18 persen atau 4.476 KL/hari.

Begitu juga dengan BBM bersubsidi Biosolar. Konsumsinya naik dari 93 persen pada periode Januari – Mei 2026 menjadi 94,2 persen pada Juli, sementara proporsi Dexlite (BBM non subsidi) turun dari 4,1 persen menjadi 3,5 persen.

Baca Juga: Di Balik Krisis Pertalite dan Solar: Saat Kenaikan Pertamax Memicu Efek Domino

Menurutnya, perubahan pola konsumsi kemudian juga diperparah dengan keterlambatan atau lagging waktu distribusi dalam merespons lonjakan di lembaga penyalur.

"Dan juga mungkin ada lagging dalam distribusi untuk merespons peningkatan volume penyerapan BBM bersubsidi tersebut ke lembaga penyalur," katanya.

Load More