Bisnis / Keuangan
Kamis, 23 Juli 2026 | 07:21 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. [Suara.com/Rina Anggraeni].
Baca 10 detik
  • Hingga Juli 2026, Bank Indonesia menyalurkan insentif KLM sebesar Rp431,9 triliun untuk mendukung sektor prioritas perbankan.
  • Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan kredit perbankan nasional pada Juni 2026 tumbuh kuat mencapai 12,67 persen.
  • Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 tetap terjaga pada kisaran 8 hingga 12 persen.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit perbankan dan menopang pemulihan ekonomi nasional.

Hingga minggu pertama Juli 2026, bank sentral telah menyalurkan insentif melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp431,9 triliun kepada industri perbankan.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan kebijakan makroprudensial longgar terus dioptimalkan agar penyaluran kredit dan pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas semakin meningkat.

"Kebijakan makroprudensial longgar terus ditempuh melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit atau pembiayaan perbankan ke sektor prioritas," ujar Perry Warjiyo dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, dikutip Kamis (23/7/2026).

Dari total insentif tersebut, alokasi melalui lending channel mencapai Rp369,0 triliun, sedangkan melalui interest rate channel sebesar Rp62,9 triliun. 

Berdasarkan kelompok bank, insentif KLM disalurkan kepada bank-bank BUMN sebesar Rp219,6 triliun, bank swasta nasional sebesar Rp172,5 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) sebesar Rp31,7 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) sebesar Rp8,1 triliun.

Ilustrasi bank. [Pixabay]

"Secara sektoral, insentif tersebut diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor prioritas, meliputi pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estate dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi keuangan, dan pembiayaan berkelanjutan," bebernya.

Perry menegaskan, BI akan terus memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif, termasuk melalui penguatan KLM untuk mendukung pendalaman pasar uang.

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif antara lain melalui penguatan KLM untuk mendukung pendalaman pasar uang, serta kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dan Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank (RPLN) yang telah dimanfaatkan oleh bank sejak 1 Juli 2026 untuk meningkatkan fleksibilitas perbankan dalam memperoleh pendanaan guna terus mendukung penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan," tutur Perry.

Baca Juga: Kredit Nganggur Masih Numpuk di Bank

Ia menambahkan, koordinasi dengan pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan industri perbankan akan terus diperkuat guna menjaga ketahanan likuiditas sekaligus mendorong pertumbuhan kredit.

Dalam kesempatan yang sama, Perry mengungkapkan, pertumbuhan kredit perbankan menunjukkan tren yang semakin kuat. 

Pada Juni 2026, kredit perbankan tumbuh 12,67 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan Mei 2026 yang sebesar 11,51 persen.

Menurut Perry, peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan seluruh jenis kredit.

"Peran kredit perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi terus meningkat. Pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 tercatat sebesar 12,67 persen secara tahunan, meningkat dari pertumbuhan Mei 2026 sebesar 11,51 persen secara tahunan," ujar Perry.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 24,90 persen secara tahunan. 

Load More