Bisnis / Makro
Senin, 06 Juli 2026 | 10:35 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Dok. Kemenkeu]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS terjadi akibat sentimen pasar yang berlebihan saja.
  • Purbaya menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sepenuhnya merupakan wewenang penuh pihak Bank Indonesia.
  • Pemerintah tetap menghargai independensi Bank Indonesia dalam mengambil kebijakan moneter tanpa melakukan intervensi dari pihak Kementerian Keuangan.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar AS yang terjadi beberapa waktu belakangan.

Menkeu Purbaya mengklaim kalau nilai tukar Rupiah lemah bukan karena fondasi ekonomi Indonesia yang memburuk, tetapi karena adanya sentimen berlebihan di pasar.

"Di kalangan pengamat, yang mungkin enggak ngerti ekonomi, mereka bilang kita mau hancur. Di situlah angle di mana demo itu masuk lagi. Tapi kalau fundamental yang lain kan lumayan bagus," katanya dalam podcast Curhat Bang Denny Sumargo, dikutip Senin (6/7/2026).

Purbaya berpandangan kalau Rupiah lemah karena adanya ketidakoptimalan di nilai tukar, dalam hal ini moneter. Jika dibandingkan negara lain, Purbaya tak menampik kalau Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mengalami pelemahan nilai tukar.

Bendahara Negara kemudian menyebut kalau pelemahan nilai tukar Rupiah adalah tanggung jawab Bank Indonesia. Ia bahkan ogah disalahkan dari fenomena tersebut.

"Kan tugas BI hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar sebetulnya. Bukan tugas saya. Jangan salahin saya kalau gitu, jangan ngotot ke saya kalau gitu," lanjut dia.

Purbaya mengakui kalau Kemenkeu dan BI tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang juga diisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Disebutkan kalau KSSK kerap melakukan pertemuan tiga bulan sekali untuk level pimpinan. Namun Purbaya menegaskan kalau Kemenkeu tetap bekerja di koridor masing-masing.

"Jadi kalau diskusi sudah clear mau diapain. Tapi kan saya enggak bisa ikut campur. Enggak bisa (intervensi), kan BI independen, dan kita percaya BI sudah cukup canggih untuk mengendalikan itu," tegas Purbaya.

Baca Juga: Purbaya Rombak Beasiswa LPDP, 80 Persen Kini untuk Bidang STEM

Load More