Bisnis / Makro
Kamis, 23 Juli 2026 | 08:20 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen dalam rapat Juli 2026 di Jakarta.
  • Menteri Airlangga Hartarto menyatakan keputusan tersebut menjadi momentum perbankan mempercepat penyaluran kredit sektor riil.
  • Pemerintah memprioritaskan pertumbuhan ekonomi nasional karena likuiditas perbankan saat ini berada dalam kondisi aman.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate dapat menjadi momentum bagi perbankan untuk mempercepat penyaluran kredit ke dunia usaha. 

Menurutnya, langkah tersebut penting agar pertumbuhan kredit tetap terjaga dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Airlangga mengatakan, kenaikan suku bunga acuan berpotensi menghambat penyaluran kredit karena biaya dana ikut meningkat. Kondisi itu pada akhirnya dapat menekan aktivitas sektor riil.

"Memang kami sampaikan dan kami mengapresiasi Bank Indonesia menahan BI rate. Karena tentu biar bagaimana kenaikan tingkat suku bunga itu akan ada transmisinya kepada sektor riil. Sehingga dengan ditahan ini, harapannya sektor riil bisa tetap bergerak. Karena kan kenaikan itu sama saja kita nginjek rem," kata Airlangga di Istana Negara, Rabu (22/7/2026).

Ia menambahkan, pemerintah saat ini lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dengan menjaga laju kredit tetap positif. 

Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah memang penting, namun penyaluran kredit menjadi faktor yang tidak kalah krusial.

Gubernur BI, Perry Warjiyo. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].

"Kan kita rupiah kan kita lihat stabilisasinya. Tetapi yang penting kan kita juga ngejar pertumbuhan. Dan pertumbuhan itu credit growth menjadi penting. Karena kalau itu naik, credit growth akan berhenti," ujarnya.

Airlangga juga memastikan, kondisi likuiditas perbankan masih berada dalam kondisi aman. Bahkan, menurut dia, masih terdapat komitmen kredit dalam jumlah besar yang belum dicairkan kepada debitur.

"Ya sekarang kan banyak kredit yang belum di-disburse. Itu lebih dari 2.500. Sehingga ini kesempatan untuk disbursement daripada loan. Jadi bank likuiditasnya sih aman sekarang," pungkas Airlangga.

Baca Juga: BI Gelontorkan Insentif Likuiditas Rp431,9 Triliun, Bank Himbara Dapat Ratusan Triliun

Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75 persen. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur Bulanan periode Juli 2026 yang berlangsung pada Selasa dan Rabu (22/7/2026).

Suku bunga deposit facility diputuskan untuk tetap pada level 4,75 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap pada level 6,5 persen.

“Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA), serta meningkatkan likuiditas dan mengatasi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta.

Load More