Bisnis / Keuangan
Senin, 03 Agustus 2026 | 17:05 WIB
Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels].
Baca 10 detik
  • Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit 0,45 miliar dolar AS pada Juni 2026.
  • Deputi BPS Ateng Hartono menyatakan defisit dipicu oleh sektor migas, khususnya hasil minyak dan minyak mentah.
  • Sektor nonmigas mencatat surplus 3,04 miliar dolar AS berkat ekspor lemak, minyak nabati, bahan bakar, besi, serta baja.

Suara.com - Neraca perdagangan Indonesia berbalik mengalami defisit pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit mencapai 0,45 miliar dolar AS. Pemicunya impor sektor minyak dan gas (Migas)

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan defisit pada komoditas migas, yaitu defisit sebesar 3,49 miliar dolar AS.

"Dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah," ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Foto udara truk mengangkut peti kemas melintas di Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym]

Meski demikian, kinerja perdagangan nonmigas masih mencatat surplus pada Juni 2026. BPS mencatat surplus nonmigas mencapai 3,04 miliar dolar AS sehingga mampu menahan defisit perdagangan secara keseluruhan agar tidak lebih dalam.

Ateng menjelaskan surplus nonmigas tersebut terutama ditopang oleh ekspor komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).

"Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus sebesar 3,04 miliar US dolar. Adapun komoditas dengan penyumbang surplus utama yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati HS 15, serta bahan bakar mineral HS 27, dan juga besi dan baja atau HS 72," ungkapnya.

"Hingga bulan Juni tahun 2026, neraca perdagangan barang mencapai surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS. Surplus sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026 terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas, yaitu surplus sebesar 19,35 miliar dolar AD, sementara untuk komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 15,77 miliar dolar AS," tutur Ateng.

Load More