- Harga minyak mentah dunia melanjutkan kenaikan pada 7 Agustus 2026 akibat kekhawatiran akses Selat Hormuz.
- Parlemen Iran merancang undang-undang penutupan jalur pelayaran serta pengenaan denda besar bagi negara musuh.
- Minyak Brent dan WTI menguat signifikan sementara Presiden AS memprediksi konflik regional segera berakhir.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Jumat 7 Agustus 2026 .
Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran atas akses pelayaran di Selat Hormuz, setelah Iran berencana melarang melintasnya kapal-kapal dari negara musuh serta mengenakan denda bernilai fantastis bagi para pelanggar.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent menguat 99 sen atau 1,2 persen menjadi 83,48 dolar AS per barel pada pukul 00.10 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 85 sen atau 1,1 persen ke posisi 78,84 dolar AS per barel.
Pada perdagangan hari sebelumnya, harga minyak telah melonjak lebih dari 3 dolar AS per barel seiring langkah Parlemen Iran mengkaji rancangan undang-undang (RUU) penutupan akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel.
Selat strategis ini mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum konflik kawasan pecah pada akhir Februari lalu. Patokan harga Brent yang sempat terkoreksi di bawah 80 dolar AS per barel kembali menembus ambang psikologis tersebut.
Analis Pasar Utama KCM Trade, Tim Waterer, menilai keraguan pelaku pasar terhadap kepastian pemulihan jalur pelayaran menjadi penahan utama agar harga minyak tidak merosot.
"Pasar menyadari kesepakatan sebelumnya berumur pendek, sehingga tingkat kepercayaan terhadap pemulihan normalisasi lalu lintas tanker masih sangat rendah," ujarnya.
Kantor berita Fars melaporkan, Komisi Parlemen Iran tengah mematangkan RUU pembatasan Selat Hormuz. Selain melarang kapal Sekutu dan Israel, aturan ini menyiapkan sanksi denda hingga 20 persen dari nilai muatan bagi kapal yang melanggar.
Tak hanya itu, pejabat senior Iran mengungkapkan pihaknya mengusulkan retribusi sebesar 5 hingga 7 persen dari total nilai kargo bagi kapal yang ingin melintasi selat tersebut.
Di sisi lain, Oman mengusulkan tarif yang lebih rendah yakni sekitar 3 persen, sementara Washington secara tegas menolak segala bentuk pemungutan biaya.
Sejumlah sumber di industri pelayaran menyatakan skema pungutan tarif tersebut sulit diterapkan di lapangan akibat terbentur sanksi ekonomi AS serta klausul ketat dari perusahaan asuransi maritim terkait transaksi pembayaran.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin kompleks setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke posisi pasukan Arab Saudi di wilayah Marib dan Hadramout.
Di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz dan serangan susulan di Yaman, Presiden AS Donald Trump, menyatakan keyakinannya kepada awak media bahwa konflik regional tersebut akan segera berakhir dalam waktu dekat.