- Wamenperin Faisol Riza menyatakan pasar makanan dan minuman artisan global diproyeksikan mencapai US$627,3 miliar pada 2032.
- Pemerintah mendorong hilirisasi produk agro lokal seperti kopi, kakao, dan teh untuk memperluas ekspor serta menghindari status pemasok bahan mentah.
- Indonesia membidik pasar ekspor negara BRICS termasuk India, yang meminta peningkatan ekspor produk hulu agro dan relaksasi aturan perdagangan.
Suara.com - Pemerintah tidak ingin Indonesia hanya menjadi pemasok bahan mentah di tengah pertumbuhan pasar minuman dan makanan artisan global yang diproyeksikan mencapai US$627,3 miliar pada 2032.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk mengambil bagian lebih besar dari pertumbuhan pasar tersebut melalui pengembangan produk olahan berbasis sumber daya lokal.
"Pasar produk makanan dan minuman artisan global, Bapak Ibu semua, menunjukkan prospek yang sangat positif. Pada tahun 2025 nilai pasar makanan dan minuman artisan diperkirakan mencapai 332 miliar US dolar dan diproyeksikan meningkat menjadi 627,3 miliar US dolar pada tahun 2032," ujar Faisol dalam pembukaan Specialty Indonesia 2026 di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Ia menyebut, Indonesia memiliki sejumlah produk agro yang berpotensi dikembangkan menjadi produk artisan bernilai tambah. Produk tersebut mencakup olahan kakao, teh, kopi, hortikultura, susu, jeruk hingga produk fermentasi berbasis lokal.
Salah satu yang memiliki potensi besar adalah industri kopi. Indonesia tercatat sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia. Ekspor kopi olahan Indonesia juga mencapai US$692 juta pada 2025 atau meningkat 4,36 persen.
Selain kopi, Indonesia menjadi produsen produk olahan kakao terbesar keempat dunia dan produsen biji kakao terbesar ketujuh. Sementara itu, nilai ekspor produk hortikultura mencapai US$544,8 juta pada 2025.
Pemerintah juga melihat peluang dari industri pengolahan teh. Pasar ekstrak teh disebut mencapai US$5,6 juta, sedangkan pasar suplemen teh hijau mencapai US$909,9 juta pada 2025.
Menurutnya, pengembangan industri berbasis agro dapat sekaligus membuka akses produk Indonesia ke pasar negara-negara BRICS.
"Dan kami menjadi negara pertama yang membahas atau menyampaikan usulan mengenai agro-based industry yang mudah-mudahan akan di-apa, akan diterima dan akan ditindaklanjuti dalam Presidensi BRICS berikutnya di Cina tahun ini dan tahun depan," ujar Faisol.
Faisol mengatakan Indonesia ingin memanfaatkan kekuatan industri agro untuk memperluas pasar produk dan turunannya. Salah satu pasar yang dibidik adalah India.
"India misalnya hari ini 1,8 miliar penduduk, membutuhkan banyak sekali produk agro. Mereka sudah meminta kita untuk memperbesar ekspor kacang mete, memperbesar juga ekspor gambir, pinang dan produk-produk hulu agro," katanya.
Menurut Faisol, ukuran pasar India yang mencapai sekitar enam kali lipat pasar domestik Indonesia menjadi peluang bagi produk agro nasional. Namun, India juga meminta adanya relaksasi sejumlah aturan perdagangan karena neraca perdagangan Indonesia dengan India masih surplus.
"Tapi jangan terlalu pesimis karena kalau melihat pasar India itu enam kali lipat daripada pasar dalam negeri kita. Sejauh resiprokal diterapkan saya kira akan menguntungkan buat produk-produk Indonesia ke India," pungkasnya.