- PTPN Group bekerja sama dengan sebelas mitra untuk mengembangkan ubi kayu terintegrasi di Provinsi Lampung.
- Program ini bertujuan mendukung ketahanan pangan dan energi melalui pemanfaatan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol.
- Penanaman tahap awal mencakup lahan seluas 7.313 hektare untuk mencapai target total 10.000 hektare.
Suara.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Group mulai mengembangkan ubi kayu sebagai komoditas strategis tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga dapat menjadi bahan baku energi terbarukan.
Pengembangan ubi kayu ini akan dilakukan secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir di Provinsi Lampung. Dalam hal ini, PTPN Group bahkan menggandeng 11 mitra strategis untuk memperkuat pengembangan komoditas tersebut.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PTPN I Regional 7 dengan 11 mitra yang terdiri dari perusahaan swasta, BUMD, BUMDes, koperasi, dan yayasan.
Pengembangan ubi kayu tersebut diarahkan untuk membangun rantai nilai dari lahan pertanian hingga industri pengolahan. Dengan demikian, komoditas yang selama ini dikenal sebagai sumber pangan tersebut juga diarahkan untuk memiliki peran dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, mengatakan pengembangan ubi kayu dilakukan dengan membangun rantai nilai yang utuh, mulai dari sektor on farm hingga off farm.
"Kami di PTPN III (Persero) membangun rantai nilai yang utuh, mulai dari hulu hingga hilir. Di sisi on farm, kami fokus pada optimalisasi lahan, penerapan teknologi budidaya, dan pengembangan varietas unggul berdaya hasil tinggi. Di sisi off farm, kami mengarahkan hilirisasi pada industri pengolahan, termasuk pemanfaatan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol," ujar Denaldy seperti dikutip, Senin (13/8/2026).
Pengembangan ekosistem ubi kayu di Lampung tidak berhenti pada peningkatan produksi di tingkat lahan. PTPN Group juga menyiapkan penguatan industri pengolahan agar komoditas tersebut menghasilkan nilai tambah lebih besar.
Salah satu arah hilirisasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol. Langkah ini membuat pengembangan komoditas tersebut memiliki dua fungsi strategis sekaligus, yakni sebagai bagian dari ketahanan pangan dan sumber bahan baku energi.
Untuk tahap awal, 11 mitra telah merencanakan penanaman ubi kayu di lahan seluas 7.313 hektare. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari target yang lebih besar, yakni mencapai 10.000 hektare lahan ubi kayu di Provinsi Lampung.
PTPN Group menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci agar ekosistem tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan. Pemerintah daerah, BUMDes, koperasi, BUMD dan masyarakat dilibatkan dalam rantai nilai pengembangan ubi kayu.
Denaldy mengatakan sinergi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat hilirisasi komoditas unggulan daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Lampung.
Selain mengejar penguatan ketahanan pangan dan energi, program tersebut juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi kepada petani dan pelaku usaha lokal.
Direktur Pemasaran & Aset Manajemen PTPN I (Persero), Arif Budiman, mengatakan perusahaan akan menjalankan program secara bertahap, mulai dari penyiapan lahan, penguatan kemitraan, pengembangan budidaya hingga integrasi dengan industri hilir.
"Kami optimistis kolaborasi yang dipimpin oleh Holding ini akan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha lokal," pungkasnya.