Inovasi Produk Lokal Mengangkat Nilai Tradisi di Momen 17 Agustus

Senin, 17 Agustus 2026 | 08:25 WIB
Saskara Bungo Ameh [Ist]
  • Merek lokal Saskara meluncurkan seri perlengkapan ibadah bernama Bungo Ameh pada peringatan kemerdekaan Indonesia.
  • Koleksi tersebut mengadaptasi seni kerajinan khas Sumatera Barat seperti mahkota suntiang dan kain songket.
  • Produk ini dirancang dalam enam variasi warna untuk pria dan wanita guna memperkenalkan budaya lokal.

Suara.com - Perkembangan industri busana Muslim dan perlengkapan ibadah di Indonesia terus menunjukkan tren positif, ditandai dengan hadirnya berbagai inovasi dari para pelaku usaha kreatif dalam negeri.

Momen perayaan nasional sering kali dimanfaatkan oleh produsen lokal untuk meluncurkan karya bertema kebudayaan sebagai bentuk apresiasi terhadap keberagaman tradisi Nusantara.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan warisan budaya lokal kepada pasar yang lebih luas melalui produk fungsional sehari-hari.

Peluncuran Seri 'Bungo Ameh' di Momen Kemerdekaan

Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi ajang bagi merek lokal Saskara untuk meneruskan seri Koleksi Nusantara. Tahun ini, Saskara merilis seri bertajuk Bungo Ameh, sebuah lini produk perlengkapan ibadah yang mengadaptasi unsur kebudayaan dan seni kerajinan khas Sumatera Barat.

Desain produk dalam koleksi ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan ibadah bagi konsumen perempuan maupun laki-laki.

Konseptor sekaligus desainer Saskara, Andya Kartika, memaparkan bahwa penamaan Bungo Ameh diambil dari bahasa Minang yang berarti "Bunga Emas".

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan nilai estetika serta tradisi yang hidup dalam masyarakat Minangkabau. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rancangan visual busana dan perlengkapan ibadah.

"Bungo Ameh terinspirasi dari kemegahan Mahkota Suntiang dan keindahan motif kain Songket khas Sumatera Barat. Susunan ornamen bunga yang berkilau pada mahkota suntiang serta motif songket yang sarat makna kami padukan untuk menghadirkan koleksi yang tidak hanya indah, tetapi juga kaya nilai budaya," ujar Andya.

Integrasi Falsafah Minangkabau dalam Desain

Kain songket memiliki peranan penting dalam struktur adat Minangkabau dan umumnya dikenakan pada perayaan bernilai sakral. Dalam koleksi ini, penerapan ornamen songket dan mahkota suntiang diselaraskan dengan fungsi utama produk sebagai sarana ibadah.

Perancangan seri ini juga mengacu pada prinsip hidup masyarakat Minangkabau, yaitu "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah" yang menekankan keselarasan antara norma adat dan ajaran syariat. Menurut perancang, prinsip tersebut diintegrasikan ke dalam konsep produk untuk menciptakan keharmonisan antara nilai budaya dan fungsi keagamaan.

"Falsafah ini mencerminkan keharmonisan antara budaya dan ajaran Islam, sejalan dengan tujuan Koleksi Nusantara sekaligus dedikasi SASKARA menghadirkan perlengkapan ibadah yang pantas untuk menghadap kepada Sang Maha Kuasa," lanjut Andya.

Spesifikasi dan Keunggulan Produk

Koleksi Bungo Ameh diproduksi dalam enam variasi warna. Lini untuk konsumen perempuan mencakup set ibadah (mukena, sajadah, dan pouch) serta hijab. Sementara itu, lini untuk konsumen laki-laki menghadirkan produk berupa sarung dengan motif yang dirancang senada.

Pada lini mukena, material utama yang digunakan adalah kain satin silk yang memiliki karakteristik halus dan tidak mudah kusut. Paket produk ini dilengkapi dengan sajadah berukuran ringkas untuk mendukung fleksibilitas penggunaan saat bepergian.

Sejak beroperasi pada tahun 2018, merek ini secara konsisten menjadikan motif dan narasi kebudayaan daerah sebagai basis pengembangan produknya. Peluncuran seri Bungo Ameh menjadi bagian dari program jangka panjang perusahaan dalam mengenalkan kekayaan seni kerajinan Indonesia di tingkat domestik maupun internasional.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com