- Sebanyak 47 dari 52 SPBU di wilayah Flores, NTT, telah kembali beroperasi normal pascagempa bumi.
- Pertamina Patra Niaga mengerahkan 12 mobil tangki dari Bima yang tiba di Labuan Bajo pada Senin (17/8/2026).
- Perusahaan mengalihkan pasokan energi dan mempercepat pemulihan lima SPBU tersisa dengan tetap memprioritaskan faktor keselamatan.
Suara.com - Stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diupayakan untuk pulih pascagempa. Hingga hari ini, sebanyak 47 dari total 52 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah kembali beroperasi setelah terdampak gempa bumi.
Sementara itu, masih terdapat lima SPBU yang belum beroperasi dan terus dipantau hingga dinilai siap kembali melayani masyarakat.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi dan pemantauan di lapangan untuk memastikan seluruh SPBU yang masih belum beroperasi dapat segera dipulihkan.
"Fokus kami adalah memastikan pasokan energi masyarakat tetap terjaga dan proses normalisasi dapat berjalan secepat mungkin. Pasokan kami alihkan dari wilayah yang memungkinkan, dan begitu tiba, langsung kami distribusikan ke SPBU tujuan," ujar Kitty seperti dikutip, Senin (17/8/2026).
Pertamina Patra Niaga juga melakukan pengalihan pasokan (alih supply), penambahan mobil tangki dari Bima, Nusa Tenggara Barat, serta percepatan pemulihan operasional SPBU.
Sebagai bagian dari penguatan pasokan energi, Pertamina Patra Niaga juga mengerahkan 11 mobil tangki BBM berkapasitas 16 kiloliter (KL) dan satu mobil tangki avtur berkapasitas 16 KL dari Bima.
Seluruh mobil tangki tersebut telah tiba dengan selamat di Labuan Bajo pada Senin pagi (17/8/2026). Setibanya di lokasi, para Awak Mobil Tangki (AMT) langsung bergerak menuju SPBU tujuan masing-masing untuk mempercepat penyaluran BBM kepada masyarakat.
Adapun, proses pemulihan tetap dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kesiapan operasional masing-masing SPBU.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan menggunakan BBM maupun LPG secara bijak sesuai kebutuhan selama proses normalisasi berlangsung.