Investasi Data Center Naik 5 Kali Lipat, RI Masuk Fase Baru Ekonomi Digital

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:32 WIB
ilustrasi Data Center (Pixabay/Akela999)
  • Ketua IDCEC Nawi Jaya menyatakan kapasitas data center Jakarta mencapai 356 MW pada semester pertama 2026.
  • Total rencana pengembangan infrastruktur data center nasional di Indonesia kini telah mencapai sekitar 1,6 Gigawatt.
  • IDCEC menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi lima tantangan utama ekosistem data center di Indonesia.

Suara.com - Industri data center (pusat data) di Indonesia resmi memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar fasilitas teknis penyimpanan server dan pendingin, data center kini bertransformasi menjadi infrastruktur strategis utama yang menopang pertumbuhan ekonomi digital, layanan cloud, hingga komputasi Artificial Intelligence (AI) skala besar.

Ketua Umum Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC), Nawi Jaya mengungkapkan bahwa keyakinan investor terhadap potensi ekonomi digital Indonesia saat ini berada pada level yang sangat tinggi. Hal ini tercermin dari melonjaknya kapasitas data center nasional secara signifikan.

Pada semester pertama 2026, kapasitas IT dan data center yang telah beroperasi di Jakarta mencapai 356 Megawatt (MW). Sementara itu kapasitas yang sedang dalam tahap konstruksi berada di angka 395 MW, dan pipeline pengembangan mendatang telah menyentuh 1.304 MW (1,3 Gigawatt).

"Artinya, total pipeline pengembangan kita mencapai sekitar 1,6 Gigawatt, atau hampir lima kali lipat dari kapasitas operasional saat ini. Ini menunjukkan investment confidence yang luar biasa besar di Indonesia," ujar Nawi Jaya dalam acara diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Dalam peta pertumbuhan nasional, Jakarta masih memegang peran kunci sebagai pusat utama hyperscale. Namun, wilayah strategis lain seperti Batam juga berkembang pesat menjadi national hub baru, didorong oleh keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), konektivitas regional, serta potensi besar pengembangan AI data center.

Ketua Umum Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC), Nawi Jaya dalam acara yang digelar di Jakarta, Kamis (20/8/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]

Meski demikian, Nawi menegaskan bahwa lonjakan potensi ini tidak otomatis menjadi keunggulan bersaing (competitive advantage) bagi Indonesia di tingkat regional Asia Tenggara.

Sebab di tengah kompetisi kawasan yang ketat, investor tidak hanya mencari lokasi atau kapasitas listrik, melainkan kepastian ekosistem secara menyeluruh.

"Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia akan menjadi pemain besar, tetapi seberapa kuat kita memanfaatkan momentum ini. Keunggulan bersaing baru terjadi ketika kita mampu mengubah potensi menjadi proyek yang reliable, sustainable, investable, dan scalable," beber dia.

Nawi melanjutkan, pertumbuhan pesat tanpa orkestrasi yang matang (growth without orchestration) berisiko menimbulkan hambatan baru (bottleneck). IDCEC mengidentifikasi lima friksi utama yang harus segera diselesaikan bersama oleh seluruh pemangku kepentingan:

Pertama yakni kebijakan dan standar (Policy & Standard), ia menyebut perlunya standar praktik industri dan dialog regulasi yang lebih terstruktur.

Kedua yakni talenta dan kompetensi (Talent & Competency). Menurutnya, pemenuhan kebutuhan SDM ahli untuk mengelola teknologi tingkat tinggi.

Ketiga yakni Energi dan Keberlanjutan (Power & Sustainability). Efisiensi daya dan pasokan energi hijau untuk mengakomodasi tingginya rack density teknologi AI.

Keempat, Pengetahuan dan Praktik Terbaik (Knowledge & Best Practice). Pertukaran informasi dan standar operasional antar pelaku industri.

Kelima, Koordinasi Ekosistem. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, operator, penyedia teknologi, dan investor.

Nawi menekankan pentingnya perubahan paradigma industri dari company to company menjadi ecosystem by ecosystem. Masalah-masalah teknis maupun regulasi yang ada tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja secara parsial.

"Operator tidak bisa menyelesaikan semuanya sendiri, pemerintah maupun penyedia teknologi juga demikian. Tantangan utama kita saat ini bukan lagi persoalan kapasitas, melainkan bagaimana membangun kapabilitas ekosistem yang mampu bergerak bersama," pungkasnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com