- Dosen FEB UGM Wisnu Setiadi Nugroho menyatakan polemik DTSEN terjadi akibat perbedaan indikator penilaian kesejahteraan.
- Metode PMT berisiko memicu ketidakadilan dan salah sasaran bansos karena menggunakan pendekatan prediksi serta data lama.
- Pemerintah didorong menyediakan transparansi variabel, saluran sanggah, serta membenahi akurasi data sebelum menetapkan kebijakan subsidi.
Suara.com - Pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) terus memicu polemik dan keresahan di tengah masyarakat.
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menyatakan perdebatan tersebut terjadi karena pemerintah dan masyarakat memiliki perspektif yang berbeda dalam menilai tingkat kesejahteraan.
Kondisi ekonomi riil masyarakat yang pas-pasan kerap berbenturan dengan data statistik akibat perbedaan indikator penilaian.
Masyarakat umumnya mengukur kesejahteraan dari pendapatan dan beban pengeluaran sehari-hari. Sementara pemerintah menggunakan sejumlah indikator seperti kepemilikan aset, kondisi rumah, hingga kepemilikan kendaraan.
"Seseorang bisa masuk desil 9 atau 10, tetapi bisa jadi hidup memang pas-pasan dan dua-duanya tetap benar," kata Wisnu, Kamis (20/8/2026).
Perbedaan pendekatan tersebut dapat membuat penilaian masyarakat dan posisi desil tidak selalu sejalan.
Wisnu menjelaskan, desil perlu dipahami sebagai posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan, bukan ukuran kekayaan secara absolut. Apabila desil yang ditampilkan merupakan peringkat secara nasional, ambang untuk masuk kelompok 10 persen teratas tidak selalu setinggi yang dibayangkan masyarakat.
Kondisi distribusi kesejahteraan di Indonesia membuat seseorang dapat berada di desil 9 atau 10 meskipun kehidupan sehari-harinya masih memiliki keterbatasan.
Persoalan ini kian krusial karena status desil berimplikasi langsung pada akses masyarakat terhadap bantuan sosial dan subsidi negara. Karena itu, menurut Wisnu, wajar jika masyarakat mempertanyakan hasil pendataan tersebut.
Baca Juga: Penentuan Desil Tak Sesuai Ekonomi Warga, Menko Airlangga Akui Data DTSEN Tak Permanen
Kendati demikian, kata Wisnu, perbedaan antara kondisi yang dirasakan masyarakat dan hasil kategorisasi desil tidak otomatis menunjukkan adanya kesalahan data secara keseluruhan.
Ia menjelaskan, pendekatan Proxy Means Test (PMT) yang digunakan untuk memperkirakan tingkat kesejahteraan berdasarkan sejumlah indikator pada dasarnya merupakan metode prediksi sehingga tetap memiliki kemungkinan kesalahan.
Selain itu, kualitas data dapat dipengaruhi oleh informasi rumah tangga yang belum diperbarui, seperti perubahan jumlah anggota keluarga. Kondisi tersebut dapat membuat perhitungan kesejahteraan per kapita tidak lagi menggambarkan kondisi rumah tangga terkini.
Pemerintah didorong untuk membuka transparansi variabel penentu serta menyediakan saluran sanggah yang jelas bagi publik.
"Masyarakat bisa melakukan respons, aduan, sehingga masyarakat bisa percaya dan kemudian puas dengan hasil yang didapatkan, bukan sekadar hanya di atas kertas lalu kemudian menerima saja penentuan dari pemerintah tersebut," ungkapnya.
Jika data yang tidak sepenuhnya akurat digunakan sebagai basis eksekusi kebijakan untuk menentukan penerima subsidi, hal tersebut berisiko memicu ketidakadilan.
Tag
Berita Terkait
-
Penentuan Desil Tak Sesuai Ekonomi Warga, Menko Airlangga Akui Data DTSEN Tak Permanen
-
Mensos Nonaktifkan Bansos Penerima Manfaat yang Main Judol
-
Pertalite Masih Bebas Dibeli, Pembatasan untuk Orang Kaya Masih Dikaji
-
Bakom Ungkap Digitalisasi Bansos Bisa Hemat Anggaran Negara hingga Rp 200 Triliun
-
Berkat Digitalisasi, Verifikasi Penerima Bansos Kini Cukup 5 Menit dari Sebelumnya 200 Hari
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif