Target Bauran EBT 2026 Dipatok hingga 21%, Pemanfaatan Energi Terbarukan Masih Masih di Bawah 0,5%

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:51 WIB
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung. [Suara.com/Yaumal]
  • Kementerian ESDM menargetkan bauran EBT mencapai 18 hingga 21 persen pada tahun 2026.
  • Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan Jerman untuk investasi energi terbarukan dan modernisasi jaringan listrik.
  • Wakil Menteri ESDM Yuliot menyatakan percepatan EBT penting untuk menekan ketergantungan bahan bakar fosil impor.

Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan porsi bauran energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 18 persen hingga 21 persen pada tahun 2026.

Meski Indonesia memiliki total potensi EBT nasional sebesar 3.687 gigawatt (GW), pemanfaatannya saat ini baru menyentuh 16,278 GW atau kurang dari 0,5 persen.

Rincian potensi EBT nasional tersebut mencakup energi surya sebesar 3.294 GW, angin 155 GW, tenaga air 95 GW, energi laut 63 GW, bioenergi 57 GW, serta panas bumi 24 GW.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, mengakui masih terdapat tantangan besar dalam mengoptimalkan potensi energi bersih tersebut untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah risiko gejolak energi global.

"Tantangan di hadapan kita memang tidak kecil, namun dengan keahlian kolektif dan komitmen yang teguh, saya yakin kita mampu membuka peluang-peluang baru, memperkuat ketahanan energi nasional, serta memberikan kontribusi nyata bagi masa depan," ujar Yuliot dalam forum Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) yang dikutip pada Senin (24/8/2026).

Menurut Yuliot, langkah percepatan EBT serta penerapan program mandatori l B50 sejak 1 Juli 2026 menjadi krusial untuk menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, mengurangi beban fiskal APBN dari subsidi energi, serta mengantisipasi dampak gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik global.

Kewajiban penggunaan BBM B50 berlaku mulai 1 Juli 2026. [Antara]

Guna mengejar target bauran tersebut, pemerintah memperkuat kemitraan dengan Jerman yang berfokus pada investasi EBT dan modernisasi jaringan listrik (smart grid).

Kerja sama energi Indonesia-Jerman tercatat telah menghimpun komitmen dukungan kumulatif lebih dari 2,3 miliar euro.

Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali Radovan, menyatakan kesiapan negaranya untuk mendorong partisipasi sektor swasta dalam pengembangan infrastruktur energi terbarukan di Indonesia.

"Dalam beberapa tahun mendatang, kami ingin memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia secara terarah dan memperkuat investasi swasta, khususnya dalam energi terbarukan dan perluasan jaringan listrik," kata Radovan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com