AMMAN Bersiap Jadi Mesin Hilirisasi

Jum'at, 04 September 2026 | 09:29 WIB
Tambang Batu Hijau yang dioperasikan oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk.
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk mengoperasikan smelter tembaga di Kabupaten Sumbawa Barat sejak Juli 2026 untuk mengolah konsentrat menjadi produk bernilai tambah.
  • Penerapan teknologi canggih seperti Double Flash Smelting dan sistem AI AIDA membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional serta mengurangi emisi.
  • Kajian LPEM FEB UI menunjukkan aktivitas hilirisasi perusahaan memberikan kontribusi ekonomi nasional sebesar Rp173,4 triliun sepanjang periode 2018 hingga 2024.

Suara.com - PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tidak hanya menjadi perusahaan pertambangan yang mengeruk mineral dari perut bumi. Namun, bisnis perusahaan kini mulai bergerak ke arah berbeda.

Selama ini, nama AMMN lekat dengan tambang Batu Hijau di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Mineral yang diambil dari perut bumi tidak lagi berhenti sebagai konsentrat.

Di tangan AMMN, komoditas itu mulai diproses lebih jauh menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Di sinilah proses hilirisasi mulai berjalan.

Apalagi, pemerintah tengah menggencarkan hilirisasi di semua lini, termasuk pertambangan. Hal ini pun menjadi kesempatan AMMN untuk unjuk gigi memperlihatkan keandalannya dalam proyek hilirisasi.

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)

Terlebih lagi, beberapa proyek hilirisasi milik perseroan mulai beroperasi. Salah satunya adalah proyek pembangunan pabrik smelter tembaga AMMN di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, yang mulai berjalan pada Juli 2026 lalu.

Proyek Strategis Nasional (PSN) itu akan mengolah hingga 900.000 metrik ton konsentrat per tahun yang berasal dari tambang Batu Hijau dan, di masa depan, tambang Elang. Hasilnya akan menciptakan produk bernilai tinggi, mulai dari katoda tembaga berkualitas tinggi, emas, perak, asam sulfat, dan selenium.

Produk-produk itu semakin penting belakangan ini, di tengah perkembangan industri kendaraan listrik yang membutuhkan mineral sebagai salah satu bahan baku baterai.

Perjalanan Smelter Tak Mulus

Perjalanan pembangunan smelter ini memang melalui jalan yang berliku. Smelter ini sempat mengalami kebakaran di area Flash Smelting Furnace, sehingga proses commissioning tersendat.

Namun, AMMN tak patah arang. Manajemen terus berusaha melakukan perbaikan hingga akhir tahun 2025. Alhasil, proyek smelter ini kembali beroperasi seperti sediakala.

"Sehingga sekitar Juni 2026, kami sudah bisa memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini," ujar Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) Rachmat Makkasau beberapa waktu lalu.

Meski kapasitas 900.000 ton per tahun belum sepenuhnya terbukti karena fasilitas tersebut belum beroperasi selama satu tahun penuh, manajemen menyebut kapasitas maksimum atau mendekati maksimum telah dapat dicapai dalam beberapa pekan operasi.

Teknologi Jadi Penopang

Fasilitas Smelter Tembaga Milik PT Amman Mineral Internasional Tbk.

Tak hanya cukup selesai saja, AMMN membungkus smelternya dengan teknologi canggih. Salah satunya, Double Flash Smelting yang bisa membuat operasional smelter lebih efisien.

Secara sederhana, teknologi itu bisa mengatur energi yang digunakan dalam mengolah tembaga menjadi produk yang berkualitas. Bisa dibilang, teknologi ini membuat proses pengolahan produk mineral tidak membutuhkan energi yang terlalu banyak.

Bukan energi saja, teknologi tersebut juga bisa mengurangi emisi. Dengan begitu, operasional smelter tidak menimbulkan polusi dan karbon yang berlebih.

"Teknologi yang kami terapkan di smelter ini tidak hanya menghasilkan tembaga dengan kualitas terbaik, tetapi juga menekan biaya dan mengurangi emisi sulfur dioksida dan karbon dioksida. Ini adalah bukti bahwa inovasi bisa berjalan seiring dengan keberlanjutan," kata Vice President Corporate Communications AMMN, Kartika Octaviana.

Selain dari sisi energi, AMMN juga mengandalkan kecerdasan buatan atau AI di pabrik pengolahan. Nama teknologinya Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA).

AIDA adalah sistem AI yang membantu pekerja tambang menentukan cara paling tepat mengolah batuan agar mineral berharga yang berhasil diambil semakin banyak, dengan menggunakan data yang sangat besar.

Bahasa gampangnya, AIDA seperti Google Maps untuk proses pengolahan tambang. Kalau Google Maps mencari rute perjalanan paling efisien berdasarkan banyak data, AIDA mencari pengaturan proses pengolahan yang paling efisien agar mineral berharga yang didapat lebih banyak.

Teknologi tersebut tidak menggantikan manusia. Setiap empat jam, tim operasi tetap meninjau rekomendasi AIDA dan menggabungkannya dengan pengalaman para ahli sebelum menentukan keputusan operasional.

Jadi, inti teknologinya bukan AI menggantikan pekerja tambang, melainkan AI membantu pekerja mengambil keputusan lebih cepat dan tepat berdasarkan data.

Hasilnya, AI ini pun cukup ampuh. AMMAN menyebut teknologi ini membantu meningkatkan mineral recovery sekitar 2,5 persen. Peningkatan efisiensi pengolahan tersebut kemudian menjadi salah satu modal AMMN untuk meningkatkan produksi.

Produksi Mulai Digenjot

Setelah smelter itu mulai beroperasi kembali, AMMN tak kendur dan terus menggenjot produksi. Pada 2026, perseroan menargetkan produksi sekitar 162.000 ton katoda tembaga, 16 ton emas, 45 ton perak, dan 91 ton selenium.

Sementara itu, hingga saat ini, produksi telah mencapai sekitar 46.000 ton katoda tembaga, 3,7 ton emas, dan 14,6 ton perak.

Peningkatan produksi tersebut diperkirakan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang seiring perusahaan mulai lebih banyak mengambil bijih dari proses penambangan.

Sebelumnya, produksi sempat turun pada 2025 karena perusahaan memasuki Fase 8. Dalam fase tersebut, perusahaan harus melakukan penyesuaian dalam proses penambangan sehingga lebih banyak upaya digunakan untuk mengambil batu buangan dibandingkan bijih yang mengandung mineral.

Dampaknya Tak Berhenti di Perusahaan

Perubahan tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai jumlah produksi atau kemampuan AMMN meningkatkan pendapatan.

Aktivitas pertambangan dan hilirisasi juga menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.

Kajian LPEM FEB UI melalui studi Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) periode 2018-2024 menunjukkan kontribusi AMMN terhadap perekonomian nasional mencapai Rp173,4 triliun sepanjang periode tersebut atau rata-rata Rp24,8 triliun per tahun.

Kontribusi tersebut setara sekitar 0,13 persen dari PDB atas dasar harga berlaku nasional pada 2024.

Kajian tersebut menggunakan pendekatan economic multiplier berbasis Inter-Regional Input-Output (IRIO) untuk menghitung dampak investasi, operasional, dan program pemberdayaan masyarakat AMMAN.

Ilustrasi PT Amman Minerals Indonesia Tbk (AMMN)

Dampak tersebut juga menyebar ke berbagai sektor ekonomi. Kebutuhan perusahaan terhadap barang, jasa, logistik, makanan, hingga tenaga kerja menciptakan efek berganda kepada pemasok dan pelaku usaha lainnya.

Kajian LPEM FEB UI juga mencatat penciptaan pendapatan rumah tangga sebesar Rp67,6 triliun sepanjang periode kajian.

Dampak tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan nasional sebesar 0,024 hingga 0,098 poin persentase, atau sekitar 80.000 hingga 206.000 orang.

Sementara tingkat pengangguran nasional diperkirakan turun 0,012 hingga 0,069 poin persentase, setara sekitar 29.000 hingga 90.000 orang.

Dari sisi fiskal, kontribusi AMMN sepanjang 2018-2024 mencapai Rp39,05 triliun. Nilai tersebut mencakup pembayaran pajak, royalti, PNBP, serta penerimaan tidak langsung dari wajib pajak yang terdampak aktivitas perusahaan.

Sementara dari sisi eksternal, total ekspor AMMN mencapai 10,29 miliar dolar AS selama periode kajian. Aktivitas tersebut menghasilkan penghematan devisa bersih sebesar 7,66 miliar dolar AS, atau rata-rata 1,09 miliar dolar AS per tahun.

Dari sisi ketenagakerjaan, aktivitas AMMN rata-rata menghasilkan sekitar 55.000 lapangan kerja per tahun secara nasional. Jumlah tersebut mencapai puncaknya pada 2024 dengan lebih dari 105.000 kesempatan kerja.

Mulai Terlihat di Kinerja Keuangan

Dampak transformasi tersebut tidak hanya terlihat dari sisi produksi dan kontribusi ekonomi. Perubahan kinerja AMMN juga mulai tercermin dalam prospek keuangannya.

Apalagi, pemulihan produksi Batu Hijau kemudian menjadi salah satu faktor utama yang membuat prospek saham AMMN kembali menarik.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) bahkan memproyeksikan pendapatan AMMN mencapai sekitar 4 miliar dolar AS pada 2026, naik 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

EBITDA diperkirakan melonjak 97 persen menjadi 2,02 miliar dolar AS, sedangkan laba bersih diproyeksikan naik menjadi 909 juta dolar AS dari 249 juta dolar AS pada 2025.

BRIDS menilai pemulihan produksi Batu Hijau dan meningkatnya kontribusi bisnis hilir akan menjadi pendorong utama kinerja AMMN.

Mengutip risetnya, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mematok target harga saham Rp6.000 per saham. BRIDS menjelaskan, target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 79,6 persen dibandingkan harga saham AMMN saat riset diterbitkan yang berada di level Rp3.340 per saham.

Valuasi tersebut dihitung menggunakan metode Sum of The Parts (SOTP), yang memperhitungkan kontribusi tambang Batu Hijau, smelter dan Precious Metal Refinery (PMR), hingga potensi jangka panjang proyek Elang.

BRIDS juga menilai valuasi AMMN masih relatif menarik. Saham perusahaan diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,7 kali EV/EBITDA 2026, lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan tambang tembaga dan emas global yang berada di kisaran 9,1 kali EV/EBITDA.

Ilustrasi penambangan emas dan tembaga milik PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

"Kami menilai valuasi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kinerja AMMN pada 2026 yang didorong oleh pemulihan produksi Fase 8, peningkatan utilisasi smelter dan PMR, serta pergeseran menuju penjualan produk hasil pemurnian yang memiliki nilai tambah lebih tinggi," tulis BRIDS

Tantangan ke Depan

Meski semua yang dilalui selama ini memberikan dampak positif bagi operasional dan kinerja, AMMN jangan berpuas diri.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi & Pertambangan menyebut kepada Suara.com bahwa secara umum AMMN sudah sejalan dengan program pemerintah soal hilirisasi.

Hal itu karena menciptakan suatu nilai tambah ekonomi dari pertambangan mineral.

Akan tetapi, mestinya hilirisasinya tidak hanya berhenti di katoda, jadi harus sampai hilirisasi produk hilir atau sampai terbentuk ekosistem industri hilir.

"Jadi tantangan berikutnya adalah mendorong industri lanjutan seperti kabel, copper foil, dan komponen berbasis tembaga agar nilai tambahnya semakin besar dan rantai industrinya semakin dalam," katanya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com