IHSG Dibayangi Koreksi, Analis Bocorkan Saham 'Buy on Weakness' Hari Ini

Senin, 21 September 2026 | 07:13 WIB
Ilustrasi perdagangan sesi I IHSG hari ini [Ist/Antara]
BACA 10 DETIK
  • IHSG melemah 1,53% ke level 6.441,15 pada pekan lalu akibat aksi jual bersih investor asing senilai Rp1,79 triliun.
  • BEI membuka suspensi saham GRPH dan LIFE mulai Senin (21/9/2026) setelah mengalami lonjakan harga ekstrem lebih dari 120%.
  • Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September 2026 dengan perkiraan menahan suku bunga di 5,75%.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pekan ini dengan membawa bayang-bayang koreksi dari pekan sebelumnya, meski analis melihat adanya peluang pembalikan arah. Sepanjang pekan lalu, indeks saham domestik mengalami penyusutan sebesar 1,53% hingga terparkir di level 6.441,15.

Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Elsierra Putri Yosita, mencatat bahwa tren penurunan ini turut menggerus nilai kapitalisasi pasar sebesar 1,58%, turun dari Rp11.446 triliun menjadi Rp11.266 triliun.

Pada penutupan perdagangan Jumat (18/9), IHSG melemah 0,33%, diwarnai oleh aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mencapai sekitar Rp1,79 triliun. Deretan saham berkapitalisasi raksasa seperti BBCA, BMRI, AMMN, TLKM, dan DSSA menjadi sasaran utama pelepasan portofolio oleh asing.

Meski demikian, tim riset BNI Sekuritas memproyeksikan adanya potensi technical rebound pada pergerakan IHSG hari ini, dengan rentang pengujian di level 6.500 hingga 6.550.

Di sisi lain, MNC Sekuritas memberikan pandangan yang lebih waspada. Berdasarkan analisis teknikal mereka, pada skenario terburuk, IHSG masih rawan menguji level support di 6.290-6.370 sebagai bagian dari pergerakan wave iv.

Namun, apabila indeks mampu bertahan di atas level 6.370, masih terbuka ruang penguatan menuju area 6.541-6.581. Untuk strategi hari ini, MNC Sekuritas menyarankan investor untuk mempertimbangkan buy on weakness pada saham BULL, KLBF, dan TLKM, serta trading buy untuk BBCA.

Terkait kebijakan bursa, otoritas pasar modal kembali membuka suspensi perdagangan saham PT Griptha Putra Persada Tbk (GRPH) dan PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) mulai sesi pertama hari ini, Senin (21/9/2026).

Lantaran sebelumnya dihentikan perdagangannya lebih dari satu hari akibat lonjakan harga ekstrem—keduanya meroket lebih dari 120% dalam sebulan terakhir—kedua emiten ini kini ditransaksikan melalui Papan Pemantauan Khusus (PPK) dengan mekanisme full call auction (FCA). Sebaliknya, saham PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) berhasil keluar dari pengawasan khusus tersebut dan kembali diperdagangkan secara normal di Papan Pengembangan.

Dari sisi makroekonomi domestik, fokus pelaku pasar minggu ini akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 22-23 September 2026.

Konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%. Proyeksi ini muncul kendati bank sentral Amerika Serikat (The Fed) baru saja mengerek suku bunganya sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%.

Wall Street Beragam, Harga Minyak Merespons Lobi Tiongkok

Beralih ke pasar global, bursa saham Amerika Serikat mengakhiri perdagangan akhir pekan lalu dengan kinerja bervariasi (mixed) setelah melewati sepekan yang penuh gejolak. Indeks Dow Jones terkoreksi tipis 0,18%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq berhasil ditutup menguat masing-masing 0,17% dan 0,40%.

Sentimen di Wall Street masih dibayangi oleh kecemasan terkait inflasi. Kekhawatiran ini dipicu oleh imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang menembus level 5%, serta munculnya ekspektasi bahwa The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Oktober mendatang.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah yang sempat bertengger di atas US$100 per barel juga menjadi perhatian utama penyumbang risiko inflasi. Beruntung, harga minyak jenis Brent akhirnya melandai hampir 1% ke posisi US$103,87 per barel pada akhir sesi.

Penurunan harga emas hitam ini terdorong oleh intervensi diplomatik Tiongkok—atas permintaan Arab Saudi—yang melobi Iran agar membatasi serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Saudi. Selain itu, munculnya harapan akan adanya jalur alternatif untuk distribusi minyak Timur Tengah turut menenangkan pasar, kendati risiko gangguan pasokan akibat konflik yang berlarut belum sepenuhnya reda.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com