SMGR Hadapi Banjir Semen, Tata Kelola Jadi Benteng

Senin, 21 September 2026 | 08:26 WIB
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menghadapi tekanan industri semen yang masih dibayangi persoalan kelebihan kapasitas atau overcapacity. Foto ist.
BACA 10 DETIK
  • SIG menghadapi tekanan industri semen akibat overcapacity.
  • Tata kelola diperkuat untuk menjaga ketahanan dan profitabilitas.
  • SIG meraih KESGI Award 2026 kategori Tata Kelola Material Konstruksi.

Suara.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menghadapi tekanan industri semen yang masih dibayangi persoalan kelebihan kapasitas atau overcapacity. Persaingan yang semakin ketat membuat emiten bersandi SMGR ini tidak hanya dituntut menjaga kinerja bisnis, tetapi juga memperkuat tata kelola agar mampu bertahan di tengah kondisi industri yang penuh tekanan.

Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra mengatakan penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan bisnis perseroan.

Menurut dia, SIG menerapkan lima prinsip GCG, yakni transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian, dan kewajaran di setiap lini operasional.

"SIG menerapkan praktik GCG di setiap tahapan kegiatan operasi sehingga lebih resilience menghadapi tantangan industri dan situasi ekonomi yang dinamis," kata Indrieffouny.

Ia mengatakan penerapan tata kelola tersebut turut tercermin dari kemampuan SIG menjaga kinerja dan profitabilitas ketika industri semen menghadapi persoalan overcapacity. Kondisi kelebihan kapasitas produksi membuat persaingan antarprodusen semakin ketat dan menekan ruang pertumbuhan industri.

Untuk memperkuat penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), SIG telah membentuk Komite Keberlanjutan sejak 2021. Komite tersebut bertugas memantau agenda keberlanjutan sekaligus mendukung pencapaian target dalam SIG Sustainability Roadmap 2030.

SIG juga menerapkan kerangka Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) untuk mengidentifikasi, mengelola, dan memitigasi risiko serta peluang yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Sementara dari sisi pengukuran tata kelola, SIG melakukan evaluasi berdasarkan kriteria ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS), ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta berbagai regulasi terkait.

Pada 2025, SIG mencatat skor GCG sebesar 102,67 dan memperoleh predikat "Leadership in Corporate Governance". Perseroan juga meraih penghargaan Best State-Owned Enterprise dalam penilaian yang diselenggarakan The Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD).

Indrieffouny mengatakan capaian tersebut menjadi bagian dari upaya SIG menjaga praktik tata kelola agar tetap selaras dengan standar internasional sekaligus menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan.

"SIG berkomitmen untuk terus melanjutkan praktik GCG untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.

Di tengah tantangan tersebut, SIG kembali mendapat pengakuan atas penerapan tata kelolanya. Perseroan meraih Katadata ESG Insight (KESGI) Award 2026 kategori Tata Kelola sektor Material Konstruksi dalam rangkaian Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com