Solusi Pakan Sapi di Papua Barat, Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase Tahan Lama

Kamis, 05 November 2026 | 22:20 WIB
Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase Tahan Lama [Ist]
BACA 10 DETIK
  • Tim TEP UNAIR memberikan pelatihan pengolahan pelepah sawit menjadi silase kepada peternak sapi di Distrik Prafi, Papua Barat.
  • Fermentasi pelepah sawit selama 21 hari menghasilkan cadangan pakan tahan lama untuk mengatasi kesulitan mencari rumput segar.
  • Program ini bertujuan membantu peternak mengurangi biaya pemeliharaan serta meningkatkan kemandirian ekonomi di kawasan transmigrasi.

Suara.com - Limbah pelepah kelapa sawit berpotensi menjadi solusi alternatif untuk mengatasi persoalan ketersediaan pakan ternak yang masih dihadapi peternak sapi di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Melihat potensi tersebut, TEP Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan pelatihan pengolahan pelepah sawit menjadi silase atau pakan ternak hasil fermentasi.

Program ini menyasar peternak transmigran dengan membekali mereka pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah limbah perkebunan menjadi pakan alternatif sapi yang dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu.

Inovasi tersebut diharapkan mampu membantu peternak mengurangi biaya pemeliharaan sekaligus mengatasi ketergantungan terhadap rumput segar yang harus dicari setiap hari.

Salah seorang peternak di SP4 Prafi, Misno, menyambut positif pelatihan tersebut. Menurutnya, pemanfaatan pelepah sawit menjadi silase merupakan inovasi yang bermanfaat bagi keberlangsungan usaha peternakan.

"Saya senang dengan adanya program ini karena dapat memanfaatkan pelepah sawit. Menurut saya, program ini sangat bagus. Akan tetapi, untuk proses berkelanjutan, kami masih kekurangan orang-orang yang membantu dalam proses pembuatan silase," ujar Misno dalam keterangannya belum lama ini.

Melalui proses fermentasi selama 21 hari, pelepah sawit dapat diolah menjadi cadangan pakan ternak. Silase tersebut bisa dimanfaatkan ketika rumput segar sulit diperoleh, terutama saat hujan berkepanjangan maupun musim kemarau.

Selain membantu menjaga ketersediaan pakan, penggunaan silase juga dapat menghemat tenaga peternak karena tidak harus mencari rumput setiap hari.

Inisiatif TEP UNAIR tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya menjaga dan meningkatkan produksi pangan nasional melalui peningkatan hasil produksi, perluasan lahan atau area produksi, serta hilirisasi untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Arahan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, 24 Juni 2026.

Dukungan terhadap penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan masyarakat juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat agar mampu menghasilkan solusi konkret bagi pembangunan.

"Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan agar menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan," ujar AHY.

Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa program Transmigrasi Patriot harus mampu menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung kepada masyarakat di kawasan transmigrasi.

"Transmigrasi Patriot bukanlah program elite. Ini cara negara memastikan ilmu pengetahuan hadir di lapangan, bekerja bersama rakyat, dan menghasilkan nilai ekonomi nyata, bukan hanya laporan akademik," kata Iftitah.

Melalui pelatihan tersebut, pemanfaatan limbah pelepah sawit diharapkan tidak hanya menjadi solusi persoalan pakan ternak, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas dan kemandirian ekonomi peternak di kawasan transmigrasi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com