Rupiah Kembali Tertekan ke Rp17.783, BI: Dihantam Minyak dan Arus Dana Keluar

Senin, 21 September 2026 | 15:18 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Rupiah melemah 25 poin ke Rp17.783 per dolar AS.
  • Minyak di atas US$100 dan dana keluar tekan rupiah.
  • BI terus intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.

Suara.com - Rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Senin (21/9). Nilai tukar rupiah melemah 25 poin atau 0,14% ke level Rp17.783 per dolar AS.

Posisi ini memburuk dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.758 per dolar AS. Pelemahan tersebut juga terjadi setelah rupiah sempat menguat pada akhir pekan lalu, mengakhiri tren pelemahan selama sepekan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuat harga minyak tetap berada di atas US$100 per barel. Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko inflasi global sekaligus menekan outlook fiskal.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," kata Erwin dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).

Tekanan tersebut membuat rupiah kembali bergerak di level Rp17.700-an per dolar AS. Bank Indonesia pun masih harus turun tangan menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi.

BI menyatakan akan terus melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga memperkuat strategi operasi moneter pro-market serta mendorong transaksi underlying untuk swap lindung nilai guna menjaga kecukupan likuiditas valuta asing.

Meski demikian, BI menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah masih menguat 0,37%.

Cadangan devisa Indonesia juga tercatat meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com