- Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.852 per dolar AS pada Rabu, 23 September 2026.
- Penguatan rupiah dipengaruhi sentimen pengumuman suku bunga dari Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
- Sebagian besar mata uang di kawasan Asia turut menunjukkan pergerakan bervariasi dengan kecenderungan menguat.
Suara.com - Nilai tukar rupiah akhirnya berbalik menguat di pasar keuangan pada awal perdagangan, Rabu, 23 September 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka ke level Rp17.852 per dolar AS, menguat 32 poin atau naik 0,18 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang ada di Rp17.884 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah ini dipengaruhi pengumuman dari Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga. Hal ini akan diumumkan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada hari ini.
"Rupiah diperkirakan masih berkonsolidasi terhadap dolar AS menjelang RDG BI sore ini. Namun, rupiah juga berpeluang menguat oleh intervensi yang telah diantispasi beberapa hari terakhir. Range rupiah ada di kisaran Rp17.800-Rp17.950," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
Sementara itu, mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan menguat. Di mana, peso Filipina berada satu level di bawah rupiah setelah terkerek 0,16 persen.
Selanjutnya, ringgit Malaysia menanjak 0,14 persen dan won Korea Selatan naik 0,1 persen. Disusul, dolar Taiwan yang terapresiasi 0,09 persen. Kemudian ada dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,001 persen terhadap the greenback.
Sedangkan, yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah terkoreksi 0,13 persen. Lalu ada baht Thailand yang tertekan 0,07 persen.
Berikutnya, dolar Singapura turun 0,04 persen dan yuan China melemah tipis 0,01 persen di pagi ini.